Sabtu, 20 Desember 2014

Pupuk dan Pemupukan tanaman tebu







PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS NPK DAN KOMBINASINYA TERHADAP TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
(Laporan Praktikum Pupuk dan Pemupukan)



Oleh
Muhammad Badrun
1304122042













PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014






DAFTAR ISI




                                                                                                                     
Halaman
Cover ...........................................................................................................  i
DAFTAR ISI ..............................................................................................  ii
I.  PENDAHULUAN .................................................................................  1
1.1  Latar Belakang ................................................................................  1
1.2  Tujuan ..............................................................................................  2

II.  TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................  3
2.1  Morfologi Tanaman Tebu ................................................................ 3
2.2  Fisiologi Tanaman Tebu ..................................................................  4
2. 3  Taksonomi Tanaman Tebu ..............................................................  5
2.4  Pupuk Organik ................................................................................  5
2.5  Pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK) ..................................  7
2.6  Pupuk dan Pemupukan ....................................................................  8

III.  METODOLOGI ..................................................................................  10
3.1  Alat dan Bahan ...............................................................................  10
3.2  Prosedur Kerja .................................................................................  10
3.2.1  Pengolahan Lahan .................................................................  10
3.2.2  Penanaman ............................................................................  10
3.2.3  Pemupukan ............................................................................  11
3.2 4 Perawatan ...............................................................................  11
a.  Penyiraman ........................................................................  11
b.  Penyulaman .......................................................................  12
c.  Penyiangan Gulma ............................................................  12
                   3.2.5  Pengamatan ...........................................................................  12

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................  13
4.1  Hasil Praktikum ...............................................................................  13
4.2  Pembahasan .....................................................................................  14

V.  KESIMPULAN ....................................................................................  16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................  17
LAMPIRAN ...............................................................................................  18








I.  PENDAHULUAN




1.1  Latar Belakang

Tanah memiliki arti yang penting bagi usaha pertanian. Akan tetapi arti yang penting ini sering diabaikan oleh manusia, sehingga tanah tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Usaha pertanian adalah bagian inti dari pertanian, karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Jika tanah dipelihara dengan baik maka kondisi tanah akan subur dan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.

Dalam budidaya tanaman, petani harus sadar bahwa melakukan pertanaman terus menerus tanpa memperhatikan pemeliharaan atas tanahnya agar seimbang tentu akan menimbulkan resiko. Pemeliharaan yang seimbang dalam usaha pertanian artinya, hasil dari kegiatan budidaya tanaman maka harus dikembalikan lagi kandungan unsur hara yang terangkat akibat panen (Sutedjo, 2009).

Pengembalian unsur hara yang terangkat saat panen dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan adalah kegiatan menambahkan unsur hara kedalam tanah untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah. Unsur hara yang ditambahkan dapat berupa pupuk. Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu meningkatkan produktifitas tanaman. Biasanya tanah yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang baik akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Sifat fisik tanah lebih sukar diperbaiki daripada sifat kimia tanah. Untuk tanaman yang sifat kimianya jelek mudah diperbaiki, yaitu dengan pemupukan (Russel, 1973).

Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis, sehingga berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari tanaman-tanaman tersebut. Salah satunya adalah tanaman tebu (Saccharum officinarum L.). Tebu merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya dapat ditanam di daerah yang memiliki iklim tropis yang dimanfaat karena mengandung gula (Andaka, 2011)

1.2  Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Mengetahui teknik budidaya tanaman tebu,
2.  Mengetahui kandungan jenis yang tepat untuk pengaplikasian pupuk pada tanaman tebu
3.  Mengetahui pengaruh pemupukan pada tanaman tebu.







II.  TINJAUAN PUSTAKA




2.1  Morfologi Tanaman Tebu

Batang tebu biasanya tumbuh tegak atau berdiri lurus mencapai ketinggian antara 2,5 m – 4 m atau lebih. Batang dari tanaman tebu tersusun dari ruas-ruas dan diantara ruas-ruas tersebut dibatasi oleh buku-buku ruas dimana terletak mata yang dapat tumbuh menjadi kuncup tanaman baru. Disamping itu terdapat mata akar tempat keluarnya akar untuk kehidupan kuncup tersebut, yang perlu diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal yang terdapat pada batang yaitu harus benar-benar diperhatikan bentuk ruasnya, disamping itu juga sifat-sifat yang terdapat pada ruas itu sendiri (Nurhayati, 2007).

Daun tebu sendiri merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya tersusun dari pelepah daun dan helai daun, pada daun tebu sendiri tidak memiliki tangkai daun. Diantara pelepah daun dan helai daun bagian sisi luar terdapat sendi segitiga daun, sedangkan pada sisi bagian dalamnya terdapat lidah daun. Selain itu juga terdapat bulu-bulu dan duri di sekitar pelepah dan helai daun. Adanya bulu pada daun tebu juga menyebabkan gatal pada kulit jika kita bersentuhan langsung dengan daun. Kondisi ini kadang membuat kurang berminatnya petani membudidayakan tebu jika masih ada alternatif tanaman lain untuk dibudidayakan. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal pada daun tanaman tebu ini yaitu dengan memperhatikan pelepah daun dan bagian-bagiannya, terutama bulu bidang punggung dan telinga dalam (Nurhayati, 2007).

Morfologi mata tunas tebu, dimana mata tunas sendiri adalah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku ruas batang. Kuncup-kuncup ini berada di ujung pangkal sebelah kanan dan sebelah kiri secara bergantian. Mata tunas ini selalu terlindungi oleh pelepah daun karena keberadaannya yang tepat dibawak ketiak daun. Hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari tanda-tanda dari mata tunas yaitu dengan tepi sayap mata, rambut jambul dan rambut tepi basal mata. Morfologi bunga tebu, bunga tebu sendiri tersusun dalam malai dan bentuknya piramida dengan panjang antara 50 cm-80 cm. cabang bunga tahap pertama merupakan karangan bunga, sedangkan cabang bunga tahap kedua merupakan tandan buah (Nurhayati, 2007).

2.2  Fisiologi Tanaman Tebu

Fase perkecambahan adalah perubahan mata tunas tebu yang dorman menjadi aktif menjadi tunas tebu muda atau kecambah. Kebutuhan ekstrinsik yang diperlukan yaitu O2, air, dan sinar matahari sedangkan kebutuhan intrinsik seperti hormon sudah tersedia di dalam stek. Proses perkecambahan berlangsung 4 sampai 6 minggu. Perkecambahan yang baik berarti modal pokok dalam budidaya tebu dan tunas kecambah akan dianggap memadai bila ada 3-4 kecambah per meter juringan (Soetopo, 1974).

Proses keluarnya tunas-tunas/anakan dari pangkal tebu muda mulai berlangsung pada umur 1,5 bulan sampai umur 3-4 bulan tergantung dari varietasnya. Proses pertunasan membutuhkan air, sinar matahari, oksigen, hara N dan P. Pertunasan yang baik terjadi jika setiap rumpun terdiri dari 1 batang induk tebu dengan 4-6 tunas anakan (Soetopo, 1974).

Pada fase perpanjangan batang biomassa tebu bertambah secara eksponensial dengan daun bertambah banyak, batang membesar diameternya, dan terutama batang bertambah panjang dengan menumbuhkan ruas-ruasnya. Fase perpanjangan batang atau pertumbuhan besar berlangsung selama 6 bulan (Soetopo, 1974).

Fase pengisian gula dikenal dengan fase kemasakan karena proses pengisian gula hasil fotosintesis yang terjadi lebih besar daripada perombakan gula untuk pertumbuhan vegetatif tebu. Pada fase ini air di tanah harus sudah menipis sampai habis, kadar N di tanah sudah habis dan atau beda suhu udara malam-siang besar sekali. Kondisi lingkungan ini biasanya terjadi di akhir musim hujan yakni Mei sampai Juli. Sedangkan sumber sinar matahari harus penuh menyinari tajuk tebu. Jika kondisi yang diharapkan tidak terjadi maka dapat diberikan zat pemacu kemasakan (Soetopo, 1974).

Fase kematian dapat datang lebih awal atau bahkan tidak terjadi sama sekali, bergantung pada ketersediaan air di tanah. Pada fase ini tebu mulai kekurangan nira dan air dalam tubuhnya sehingga berat dan rendemennya menurun. Upaya untuk mencegah berlanjutnya fase ini adalah dengan pengairan yang ditujukan untuk mempertahankan batang-batang tua yang mengalami dehidrasi (Soetopo, 1974).

2.3  Taksonomi Tebu

Tebu atau sugar cane dalam bahasa inggris adalah tanaman yang memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae (tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas               : Liliopsida (berkeping satu /monokotil)
Sub Kelas        : Commelinidae
Ordo                : Poales
Famili              : Graminae atau Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus              : Saccharum
Spesies            : Saccharum officinarum L.

2.4  Pupuk Organik

Pupuk organik (kompos) merupakan hasil perombakan bahan organik oleh
mikrobia dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang
rendah. Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30,
sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu
yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan
N karena menguap selama proses perombakan berlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan fermentasi menggunakan teknologi mikrobia efektif dikenal dengan nama bokashi. Dengan cara ini proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan cara konvensional (Yuwono, 2007).

Penggunaan pupuk organik yang dipadukan dengan penggunaan pupuk kimia dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan pengurangan penggunaan pupuk kimia, baik pada lahan sawah maupun lahan kering. Telah banyak dilaporkan bahwa terdapat interaksi positif pada penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia secara terpadu. Penggunaan pupuk kimia secara bijaksana diharapkan memberikan dampak yang lebih baik dimasa depan. Tidak hanya pada kondisi lahan dan hasil panen yang lebih baik, tetapi juga pada kelestarian lingkungan (Musnamar, 2005).

Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta
sebagai sumber nutrisi tanaman. Secara umum kandungan nutrisi hara dalam
pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan
dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan
dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam
bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi
yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun
anaerob. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti
sisa-sisa tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak
(sapi, kambing, ayam), arang sekam, dan abu dapur (Deptan, 2006).

Sumber utama bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman,
baik serupa sampah-sampah tanaman (serasah) ataupun sisa-sisa tanaman yang telah mati. Sumber bahan organik lainnya adalah hewan. Bahan–bahan organik yang berasal dari serasah, sisa-sisa tanaman yang mati, limbah atau kotoran hewan dan bangkai hewan itu sendiri, didalam tanah akan diaduk-aduk dan dipindahkan oleh jasad renik yang selanjutnya dengan kegiatan berbagai jasad tanah bahan organik itu melalui berbagai proses yang rumit dirombak menjadi bahan organik tanah yang mempunyai arti penting (Kartasapoetra, 1987).

Dalam proses pengomposan peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon. Proses pengomposan secara aerob, lebih cepat dibanding anaerob dan waktu yang diperlukan tergantung beberapa faktor, antara lain: ukuran partikel bahan kompos, C/N rasio bahan kompos, keberadaan udara (keadaan aerobik), dan kelembaban. Kompos yang sudah matang diindikasikan oleh suhu yang konstan, pH alkalis, C/N rasio <20, kapasitas tukar kation > 60 me/100 g abu, dan laju respirasi < 10 mg/g kompos. Sedangkan indicator yang dapat diamati secara langsung adalah jika berwarna coklat tua dan tidak berbau busuk ( Deptan, 2006).

Pengomposan anaerobik adalah dekomposisi bahan organik tanpa oksigen.
Hasil metabolisme dari proses ini metan, CO2, dan berbagai produk intermediet
(metabilites). Metabolistes menyebabkan bau yang lebih keras dibandingkan
kompos aerob sehingga cara ini agak kurang diminati. Pada proses anaerobik,
energi tersebut dikeluarkan dalam bentuk gas metan yang sangat bermanfaat
(Sudradjat, 2007).

2.5  Pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK)

Pupuk NPK (nitrogen phosphat kalium) merupakan pupuk majemuk cepat
tersedia yang paling dikenal saat ini. Bentuk pupuk NPK yang sekarang beredar
dipasaran adalah pengembangan dari bentuk-bentuk NPK lama yang kadarnya masih rendah. Kadar NPK yang banyak beredar adalah 15-15-15, 16-16-16, dan 8-20-15. Kadar lain yang tidak terlalu umum beredar adalah 6-12-15, 12-12-12, atau 20-20-20. Tiga tipe pupuk NPK yang pertama sangat umum didapati. Tipe pupuk NPK tersebut juga sangat populer karena kadarnya cukup tinggi dan  memadai untuk menunjang pertumbuhan tanaman. NPK yang beredar merupakan pupuk impor, terutama dari Norwegia, Swedia, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat (Jaerony, 2008).

Nitrogen merupakan hara penting untuk pertumbuhan tanaman, yaitu untuk
pembentukan protein, sintesis klorofil dan untuk proses metabolisme. Kekurangan N akan mengurangi efisiensi pemanfaatan sinar matahari dan ketidakseimbangan serapan unsur hara. Tanaman yang kekurangan N ditandai oleh daun-daun tua berwarna hijau pucat kekuning-kuningan dan kecepatan produksi daun menurun. Sebaliknya kelebihan N menghasilkan daun yang lemah dan layu, serta berkurangnya buah (Yuwono, 2007).

Fosfor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO4, dan PO4 akan tergantung dari nilai pH tanah. Fosfor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya dari pelapukan bahan organik. Walaupun sumber fosfor didalam tanah mineral cukup banyak tanaman masih bisa mengalami kekurangan fosfor. Pasalnya, sebagian besar fosfor terikat secara kimia oleh unsur lain menjadi senyawa yang sukar larut didalam air. Mungkin hanya 1% fosfor yang dapat dimanfaatkan tanaman (Ridwan, 2008).

Seperti unsur hara lainnya, kalium bukanlah komponen dari protein, karbohidrat atau beberapa substansi lainnya didalam tumbuhan. Kalium dengan mudah diserap oleh akar tanaman. Dan sebagian besar ion kalium (K+) disimpan didalam sel tumbuh-tumbuhan. Ion-ion K+ didalam air tanah dan ion-ion K+ yang diadsorpsi, dapat langsung diserap. Disamping itu tanah mengandung juga persediaan mineral tertentu dalam bentuk berbagai macam silikat, dimana kalium membebaskan diri sebagai akibat dari pengaruh iklim (Sudradjat, 2007).

2.6  Pupuk dan Pemupukan

Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman (Yuwono, 2007).

Dalam pertanian modern, penggunaan materi yang berupa pupuk adalah mutlak untuk memacu tingkat produksi tanaman yang diharapkan. Seperti telah diketahui bersama bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar dipasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, maupun kemasannya. Pupuk–pupuk tersebut hampir 90% sudah mampu memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman, dari unsur makro hingga unsur yang berbentuk mikro. Kalau tindakan pemupukan untuk menambah bahan-bahan yang kurang tidak segera dilakukan tanaman akan tumbuh kurang sempurna, misalnya menguning, tergantung pada jenis zat yang kurang (Musnamar, 2005).

Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.Pemberian bahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia atau biologis disebut pembenahan tanah (amandement) yang berarti perbaikan (reparation) atau penggantian (Yuwono, 2007).






III.  METODOLOGI




3.1  Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi cangkul, meteran, sabit, gembor, koret, dan meteran kain. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi bibit tebu, air, pupuk kompos dan pupuk urea, pupuk TSP dan pupuk KCL.

3.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut.

3.2.1  Pengolahan lahan
1.  Disiapkan alat yang akan digunakan untuk pengolahan lahan
2.  Diukur luas lahan yang akan diolah kemudian dibagi menjadi 15 bagian, dengan ukuran 4m x 5m
3.  Dibersihkan gulma dan semak-semak dari plot yang sudah dibagi kemudian dibersihkan lahan dari bonggol tebu yang tersisa di lahan
4.  Diolah tanahnya agar struktur tanahnya menjadi gembur
5.  Dibentuk guludan sebanyak 5 buah.

3.2.2  Penanaman
1.  Disiapkan bibit tebu yang akan digunakan sebagai bahan tanam
2.  Dipotong-potong bibit tebu dengan 3 ruas dan 2 buku
3.  Bibit kemudian ditanam dalam roraks dengan posisi mata tunas berada disamping kemudian ditimbun dengan tanah dan dibentuk guludan kembali
4.  Disiram bibit yang sudah ditanaman agar proses imbibisi dapat terjadi.

3.2.3  Pemupukan
Dilakukan pemupukan untuk  masing-masing perlakuan Untuk perlakuan A dengan perlakuan NPK(Urea 300kg, TSP 150kg, dan KCL 300kg). Untuk perlakuan B dengan perlakuan pupuk kompos 10 ton. Untuk perlakuan C dengan perlakuan pupuk NPK+ ½ kompos. Untuk perlakuan D dengan perlakuan ½ NPK + kompos dan perlakuan E dengan perlakuan kontrol atau tidak dilakukan pemupukan.

3.2.4  Pemeliharaan
Pemeliharaan dalam praktikum teknik budidaya dan pemupukan tanaman tebu ini meliputi penyiraman, penyulaman, serta penyiangan.

a.  Penyiraman
Penyiraman dilakukan sebanyak 2 hari sekali karena air yang digunakan untuk menyiram tidak ada, sehingga bibit mengalami kekurangan air. Seharusnya penyiraman dilakukan 2 kali sehari, karena tanaman membutuhkan air untuk berimbibisi sedangkan untuk bulan selanjutnya penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor sampai tanah dalam keadaan lembab.





b.  Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada minggu ke-4 saat tanaman tebu tidak ada yang tumbuh karena setelah tebu dibongkar ternyata bibit tebu mengalami kekeringan, sehingga tebu tidak tumbuh.

c.  Penyiangan Gulma
Penyiangan gulma dilakukan selama 1 minggu sekali.Penyiangan bertujuan agar tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan nutrisi antara gulma dengan tanaman tebu.

3.2.5  Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. Sebelum pengamatan, hal yang dilakukan adalah menentukan sampel sebanyak 5 sampel dengan metode random sampling yaitu menetukan sampel secara acak. Tanaman yang dijadikan sampel adalah tanaman yang berada didalam. Setelah sampel ditentukan kemudian dipasang label dengan nomor 1 sampai dengan 5 supaya sampel tidak tertukar. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman tebu.







IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN




4.1  Hasil Pengamatan

Hasil yang didapat dari praktikum ini adalah sebagai berikut.

Tabel 1.  Data pertumbuhan tanaman tebu pada minggu ke-8.

Perlakuan
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
NPK
126,93
11
Kompos
126,46
10
NPK + ½ Kompos 
126,26
10
½ NPK + Kompos
126
11
Kontrol
117,66
10



 

Gambar 1.  Grafik pertumbuhan tanaman tebu pada minggu ke-8.


4.2  Pembahasan

Pada praktikum pupuk dan pemupukan ini dilakukan budidaya tanaman tebu dengan pengamatan selama 8 minggu menggunakan perlakuan NPK, kompos, NPK + ½ kompos, ½ NPK + kompos dan kontrol. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan tanaman tebu.

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun untuk masing-masing perlakuan. Hasil pengamatan masing-masing perlakuan setelah 8 minggu rata-rata tinggi tanaman dengan perlakuan NPK adalah 126,93 cm, perlakuan pupuk kompos 126, 46 cm, perlakuan NPK + ½ kompos adalah 126, 26 cm, ½ NPK+kompos adalah 126 cm, serta control adalah 117,66 cm. Sedangkan hasil pengamatan untuk  rata-rata jumlah daun selama 8 minggu untuk masing-masing perlakuan antaralain, perlakuan NPK sebanyak 11 helai, perlakuan kompos sebanyak 10 helai, NPK + ½ kompos sebanyak 10 helai, ½ NPK+kompos sebanyak 11, serta kompos sebanyak 10 helai.

Dari hasil pengamatan selama 8 minggu tersebut maka dapat diketahui secara berurutan  bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi adalah tanaman dengan perlakuan NPK, kompos, NPK + ½ kompos, perlakuan ½ NPK + kompos, dan kontrol.

Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1 dapat diketahui bahwa pemberian pupuk menunjukkan, pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tanaman tebu. Tinggi tanaman menggambarkan pertumbuhan dari tanaman tersebut, dengan demikian dapat dikatakan semakin tinggi tanamannya maka pertumbuhan tanaman semakin baik. Hal ini disebabkan karena pupuk merupakan bahan yang mengandung nutrisi bagi tanaman sehingga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu (Mulyana, 2001).

Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran dan volume yang disebabkan oleh pembelahan sel tanaman yang bersifat reversibel atau tidak dapat balik lagi. Kualitas dari pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi tingkat poduksi tanaman tersebut yang nantinya juga mempengaruhi kualitas dari produksi yang dihasilkan tanaman. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor dari dalam tanaman (faktor internal) dan faktor lingkungan (faktor eksternal). Faktor lingkungan yang penting bagi pertumbuhan tanaman ialah tanah (unsur hara), kondisi tanah yang baik akan memberikan media tumbuh yang baik bagi menghasilkan bobot tebu yang baik (Ahira, 2004).

Selain unsur hara, tanaman juga memerlukan air dalam pertumbuhannya. Air merupakan kebutuhan biologis utama tanaman. Kekurangan air akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. begitu pula dengan pertumbuhan tunas saat penanaman, kurangnya penyiraman menyebabkan bibit tebu kering dan tidak dapat tumbuh karena  air dibutuhkan untuk menumbuhkan tunas (imbibisi) (Indrianto, 2010).

Tinggi tanaman dengan perlakuan NPK memiliki rata-rata tinggi yang paling baik dibandingkan dengan pelakuan yang lain hal ini disebabkan karena pupuk NPK mengandung unsur hara makro yang esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tinggi tanaman paling rendah yaitu pada perlakuan kontrol. Hal ini dikarenakan tanah tersebut tidak mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanpa diberi pupuk tanaman yang berada diatasnya tidak dapat tumbuh dengan subur. Kekurangan unsur hara juga membuat pertumbuhan tanaman cenderung lambat atau tidak stabil (Zulfahmi, 2012).





V.  KESIMPULAN




Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Budidaya tanaman tebu meliputi persiapan lahan, penanaman, dan perawatan.
2.  Pemupukan merupakan kegiatan penambahan unsur hara kedalam tanah untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah.
3.  Pemupukan yang baik adalah pemupukan yang menggunakan lima ketepatan. Yaitu salah satunya tepat jenis. Jenis pupuk yang baik bagi tanaman tebu adalah pupuk yang mengandung unsur hara esensial bagi tanaman.
4.  Pertumbuhan tanaman tebu yang baik adalah dengan perlakuan pupuk NPK yaitu dengan tinggi tanaman 126, 93 cm dan jumlah daun sebanyak 11 helai.
5.  Tinggi tanaman paling rendah yaitu pada perlakuan kontrol. Hal ini dikarenakan tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanpa diberi pupuk tanaman yang berada diatasnya tidak dapat tumbuh dengan subur.









DAFTAR PUSTAKA




Ahira. 2004. Pertanian dan Perkebunan Mengenal dan Merawat. Kanisius:
 Yogyakarta.

Andaka. 2011. Teknik dan Cara Budidaya Tanaman Tebu. PT Penebar Swadaya. Surabaya.

Deptan. 2006. Proses Pengomposan Dengan Memanfaatkan Bakteri EM-4. Departemen Pertanian. Bogor.

Jaerony. 2008. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.

Kartasapoetra. 1987. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mulyana. 2001. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu Dengan Segala
 Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang.

Musnamar. 2005. Pertanian Organik. Kreasiwacana. Yogyakarta.

Nurhayati. 2007. Identifikasi Morfologi Tanaman Tebu. Gramedia. Jakarta.

Ridwan. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Russel. 1973. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.

Soetopo. 1974. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Tebu. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sudradjat. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutedjo. 2009. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.

Yuwono. 2007. Pupuk dan Pemupukan. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Zulfahmi. 2012. Pemberian Pupuk  organik Sebagai Solusi Permasalahan Budidaya Tebu Di Lahan Kering. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.











































LAMPIRAN











Tabel 2.  Pengamatan Rata Rata Tinggi Tanaman Tebu Semua Perlakuan

Perlakuan
NPK
Kompos
NPK + ½ Kompos
½ NPK + Kompos
Kontrol
Minggu 1
25,93
17,89
12,74
20,47
20,37
Minggu 2
43,54
33,93
32,19
53,3
37,23
Minggu 3
60,6
47,24
50,43
54,97
53,07
Minggu 4
70,53
66,87
62,05
69,3
70,47
Minggu 5
85
86,93
70,8
78,87
82,03
Minggu 6
95,03
94,87
84,8
94,2
96,6
Minggu 7
108,7
107,3
103
109,1
108,2
Minggu 8
126,9
126,5
126,2
126
117,9





Tabel 3.  Pengamatan Rata Rata Jumlah Daun Tanaman Tebu Semua Perlakuan.

Perlakuan
NPK
Kompos
NPK + ½ Kompos
½ NPK + Kompos
Kontrol
Minggu 1
3
3
3
3
4
Minggu 2
4
4
6
5
5
Minggu 3
5
5
6
6
6
Minggu 4
6
6
6
7
6
Minggu 5
7
8
7
8
8
Minggu 6
8
9
8
9
9
Minggu 7
10
9
9
11
10
Minggu 8
11
10
10
11
10








 

1 komentar:

  1. The King Casino Review - CommunityKhabar.com
    The King Casino Review · 더킹카지노 Casino software – 100% secure · Software – Live casino · Software – Gaming vua nhà cái · Customer support – Security · Live starvegad chat – Welcome Bonus.

    BalasHapus