PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS NPK DAN
KOMBINASINYA TERHADAP TANAMAN TEBU (Saccharum
officinarum L.)
(Laporan Praktikum
Pupuk dan Pemupukan)
Oleh
Muhammad
Badrun
1304122042
PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
DAFTAR ISI
Cover ........................................................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
I. PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Tujuan .............................................................................................. 2
II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
2.1 Morfologi Tanaman Tebu ................................................................ 3
2.2 Fisiologi Tanaman Tebu .................................................................. 4
2.
3 Taksonomi Tanaman Tebu .............................................................. 5
2.4 Pupuk Organik ................................................................................ 5
2.5 Pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK) .................................. 7
2.6 Pupuk dan Pemupukan .................................................................... 8
III. METODOLOGI .................................................................................. 10
3.1 Alat dan Bahan ............................................................................... 10
3.2 Prosedur Kerja ................................................................................. 10
3.2.1 Pengolahan Lahan ................................................................. 10
3.2.2 Penanaman ............................................................................ 10
3.2.3 Pemupukan ............................................................................ 11
3.2 4 Perawatan
............................................................................... 11
a. Penyiraman ........................................................................ 11
b. Penyulaman ....................................................................... 12
c. Penyiangan Gulma ............................................................ 12
3.2.5
Pengamatan ........................................................................... 12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 13
4.1 Hasil Praktikum ............................................................................... 13
4.2 Pembahasan ..................................................................................... 14
V. KESIMPULAN .................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 17
LAMPIRAN ............................................................................................... 18
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah memiliki arti yang penting bagi usaha pertanian. Akan
tetapi arti yang penting ini sering diabaikan oleh manusia, sehingga tanah
tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Usaha pertanian adalah bagian
inti dari pertanian,
karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan
dalam budidaya. Jika tanah dipelihara dengan baik maka kondisi tanah akan subur
dan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.
Dalam budidaya tanaman, petani harus sadar
bahwa melakukan pertanaman terus menerus tanpa memperhatikan pemeliharaan atas
tanahnya agar seimbang tentu akan menimbulkan resiko. Pemeliharaan yang
seimbang dalam usaha pertanian artinya, hasil dari kegiatan budidaya tanaman
maka harus dikembalikan lagi kandungan unsur hara yang terangkat akibat panen
(Sutedjo, 2009).
Pengembalian unsur hara yang terangkat saat
panen dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan adalah kegiatan menambahkan
unsur hara kedalam tanah untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah.
Unsur hara yang ditambahkan dapat berupa pupuk. Pupuk merupakan bahan yang
ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang
diperlukan tanaman sehingga mampu meningkatkan produktifitas tanaman. Biasanya
tanah yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang baik akan menghasilkan produksi
yang lebih tinggi. Sifat fisik tanah lebih sukar diperbaiki daripada sifat
kimia tanah. Untuk tanaman yang sifat kimianya jelek mudah diperbaiki, yaitu
dengan pemupukan (Russel, 1973).
Indonesia
merupakan salah satu negara beriklim tropis, sehingga berbagai jenis tanaman
dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia. Banyak manfaat yang dapat kita ambil
dari tanaman-tanaman tersebut. Salah satunya adalah tanaman tebu (Saccharum officinarum L.). Tebu
merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya dapat ditanam di daerah yang
memiliki iklim tropis yang dimanfaat karena mengandung gula (Andaka, 2011)
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui teknik
budidaya tanaman tebu,
2. Mengetahui kandungan jenis yang tepat untuk
pengaplikasian pupuk pada tanaman tebu
3. Mengetahui
pengaruh pemupukan pada tanaman tebu.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi Tanaman Tebu
Batang
tebu biasanya tumbuh tegak atau berdiri lurus mencapai ketinggian antara 2,5 m
– 4 m atau lebih. Batang dari tanaman tebu tersusun dari ruas-ruas dan diantara
ruas-ruas tersebut dibatasi oleh buku-buku ruas dimana terletak mata yang dapat
tumbuh menjadi kuncup tanaman baru. Disamping itu terdapat mata akar tempat
keluarnya akar untuk kehidupan kuncup tersebut, yang perlu diperhatikan untuk
mempelajari tanda pengenal yang terdapat pada batang yaitu harus benar-benar
diperhatikan bentuk ruasnya, disamping itu juga sifat-sifat yang terdapat pada
ruas itu sendiri (Nurhayati, 2007).
Daun
tebu sendiri merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya tersusun dari
pelepah daun dan helai daun, pada daun tebu sendiri tidak memiliki tangkai
daun. Diantara pelepah daun dan helai daun bagian sisi luar terdapat sendi
segitiga daun, sedangkan pada sisi bagian dalamnya terdapat lidah daun. Selain
itu juga terdapat bulu-bulu dan duri di sekitar pelepah dan helai daun. Adanya
bulu pada daun tebu juga menyebabkan gatal pada kulit jika kita bersentuhan
langsung dengan daun. Kondisi ini kadang membuat kurang berminatnya petani membudidayakan
tebu jika masih ada alternatif tanaman lain untuk dibudidayakan. Hal yang perlu
diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal pada daun tanaman tebu ini yaitu
dengan memperhatikan pelepah daun dan bagian-bagiannya, terutama bulu bidang
punggung dan telinga dalam (Nurhayati, 2007).
Morfologi
mata tunas tebu, dimana mata tunas sendiri adalah kuncup tebu yang terletak
pada buku-buku ruas batang. Kuncup-kuncup ini berada di ujung pangkal sebelah
kanan dan sebelah kiri secara bergantian. Mata tunas ini selalu terlindungi
oleh pelepah daun karena keberadaannya yang tepat dibawak ketiak daun. Hal yang
perlu diperhatikan dalam mempelajari tanda-tanda dari mata tunas yaitu dengan
tepi sayap mata, rambut jambul dan rambut tepi basal mata. Morfologi bunga
tebu, bunga tebu sendiri tersusun dalam malai dan bentuknya piramida dengan
panjang antara 50 cm-80 cm. cabang bunga tahap pertama merupakan karangan
bunga, sedangkan cabang bunga tahap kedua merupakan tandan buah (Nurhayati,
2007).
2.2 Fisiologi Tanaman Tebu
2.2 Fisiologi Tanaman Tebu
Fase
perkecambahan adalah perubahan mata tunas tebu yang dorman menjadi aktif
menjadi tunas tebu muda atau kecambah. Kebutuhan ekstrinsik yang diperlukan
yaitu O2, air, dan sinar matahari sedangkan kebutuhan intrinsik
seperti hormon sudah tersedia di dalam stek. Proses perkecambahan berlangsung 4
sampai 6 minggu. Perkecambahan yang baik berarti modal pokok dalam budidaya
tebu dan tunas kecambah akan dianggap memadai bila ada 3-4 kecambah per meter
juringan (Soetopo, 1974).
Proses
keluarnya tunas-tunas/anakan dari pangkal tebu muda mulai berlangsung pada umur
1,5 bulan sampai umur 3-4 bulan tergantung dari varietasnya. Proses pertunasan
membutuhkan air, sinar matahari, oksigen, hara N dan P. Pertunasan yang baik
terjadi jika setiap rumpun terdiri dari 1 batang induk tebu dengan 4-6 tunas
anakan (Soetopo, 1974).
Pada fase perpanjangan batang biomassa tebu bertambah secara
eksponensial dengan daun bertambah banyak, batang membesar diameternya, dan
terutama batang bertambah panjang dengan menumbuhkan ruas-ruasnya. Fase
perpanjangan batang atau pertumbuhan besar berlangsung selama 6 bulan (Soetopo, 1974).
Fase pengisian gula dikenal dengan fase kemasakan karena
proses pengisian gula hasil fotosintesis yang terjadi lebih besar daripada
perombakan gula untuk pertumbuhan vegetatif tebu. Pada fase ini air di tanah
harus sudah menipis sampai habis, kadar N di tanah sudah habis dan atau beda
suhu udara malam-siang besar sekali. Kondisi lingkungan ini biasanya terjadi di
akhir musim hujan yakni Mei sampai Juli. Sedangkan sumber sinar matahari harus
penuh menyinari tajuk tebu. Jika kondisi yang diharapkan tidak terjadi maka
dapat diberikan zat pemacu kemasakan (Soetopo,
1974).
Fase kematian dapat datang lebih awal atau bahkan tidak
terjadi sama sekali, bergantung pada ketersediaan air di tanah. Pada fase ini
tebu mulai kekurangan nira dan air dalam tubuhnya sehingga berat dan
rendemennya menurun. Upaya untuk mencegah berlanjutnya fase ini adalah dengan
pengairan yang ditujukan untuk mempertahankan batang-batang tua yang mengalami
dehidrasi (Soetopo,
1974).
2.3 Taksonomi Tebu
Tebu atau sugar cane
dalam bahasa inggris adalah tanaman yang memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom :
Plantae (tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu /monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Graminae atau Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum L.
Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu /monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Graminae atau Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum L.
2.4 Pupuk Organik
Pupuk
organik (kompos) merupakan hasil perombakan bahan organik oleh
mikrobia
dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang
rendah.
Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30,
sedangkan
kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki
nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu
yang
lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan
N
karena menguap selama proses perombakan berlangsung. Kompos yang dihasilkan
dengan fermentasi menggunakan teknologi mikrobia efektif dikenal dengan nama
bokashi. Dengan cara ini proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih
singkat dibandingkan cara konvensional (Yuwono, 2007).
Penggunaan
pupuk organik yang dipadukan dengan penggunaan pupuk kimia dapat meningkatkan
produktivitas tanaman dan pengurangan penggunaan pupuk kimia, baik pada lahan
sawah maupun lahan kering. Telah banyak dilaporkan bahwa terdapat interaksi
positif pada penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia secara terpadu. Penggunaan
pupuk kimia secara bijaksana diharapkan memberikan dampak yang lebih baik
dimasa depan. Tidak hanya pada kondisi lahan dan hasil panen yang lebih baik,
tetapi juga pada kelestarian lingkungan (Musnamar, 2005).
Pupuk
organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting
dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta
sebagai
sumber nutrisi tanaman. Secara umum kandungan nutrisi hara dalam
pupuk
organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan
dalam
jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan
dapat
menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam
bentuk
segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi
yang
dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun
anaerob.
Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti
sisa-sisa
tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak
(sapi, kambing, ayam), arang sekam, dan abu dapur (Deptan,
2006).
Sumber
utama bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman,
baik
serupa sampah-sampah tanaman (serasah) ataupun sisa-sisa tanaman yang telah
mati. Sumber bahan organik lainnya adalah hewan. Bahan–bahan organik yang
berasal dari serasah, sisa-sisa tanaman yang mati, limbah atau kotoran hewan
dan bangkai hewan itu sendiri, didalam tanah akan diaduk-aduk dan dipindahkan
oleh jasad renik yang selanjutnya dengan kegiatan berbagai jasad tanah bahan organik
itu melalui berbagai proses yang rumit dirombak menjadi bahan organik tanah
yang mempunyai arti penting (Kartasapoetra, 1987).
Dalam
proses pengomposan peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting,
karena kedua mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan
bahan yang mengandung karbon. Proses pengomposan secara aerob, lebih cepat
dibanding anaerob dan waktu yang diperlukan tergantung beberapa faktor, antara
lain: ukuran partikel bahan kompos, C/N rasio bahan kompos, keberadaan udara
(keadaan aerobik), dan kelembaban. Kompos yang sudah matang diindikasikan oleh
suhu yang konstan, pH alkalis, C/N rasio <20, kapasitas tukar kation > 60
me/100 g abu, dan laju respirasi < 10 mg/g kompos. Sedangkan indicator yang
dapat diamati secara langsung adalah jika berwarna coklat tua dan tidak berbau
busuk ( Deptan, 2006).
Pengomposan
anaerobik adalah dekomposisi bahan organik tanpa oksigen.
Hasil
metabolisme dari proses ini metan, CO2, dan berbagai produk intermediet
(metabilites).
Metabolistes menyebabkan bau yang lebih keras dibandingkan
kompos
aerob sehingga cara ini agak kurang diminati. Pada proses anaerobik,
energi
tersebut dikeluarkan dalam bentuk gas metan yang sangat bermanfaat
(Sudradjat,
2007).
2.5 Pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK)
Pupuk
NPK (nitrogen phosphat kalium) merupakan pupuk majemuk cepat
tersedia
yang paling dikenal saat ini. Bentuk pupuk NPK yang sekarang beredar
dipasaran
adalah pengembangan dari bentuk-bentuk NPK lama yang kadarnya masih rendah.
Kadar NPK yang banyak beredar adalah 15-15-15, 16-16-16, dan 8-20-15. Kadar
lain yang tidak terlalu umum beredar adalah 6-12-15, 12-12-12, atau 20-20-20.
Tiga tipe pupuk NPK yang pertama sangat umum didapati. Tipe pupuk NPK tersebut
juga sangat populer karena kadarnya cukup tinggi dan memadai untuk menunjang pertumbuhan tanaman.
NPK yang beredar merupakan pupuk impor, terutama dari Norwegia, Swedia, Jerman,
Jepang, dan Amerika Serikat (Jaerony, 2008).
Nitrogen
merupakan hara penting untuk pertumbuhan tanaman, yaitu untuk
pembentukan
protein, sintesis klorofil dan untuk proses metabolisme. Kekurangan N akan
mengurangi efisiensi pemanfaatan sinar matahari dan ketidakseimbangan serapan
unsur hara. Tanaman yang kekurangan N ditandai oleh daun-daun tua berwarna
hijau pucat kekuning-kuningan dan kecepatan produksi daun menurun. Sebaliknya
kelebihan N menghasilkan daun yang lemah dan layu, serta berkurangnya buah
(Yuwono, 2007).
Fosfor
diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO4, dan PO4 akan tergantung dari nilai
pH tanah. Fosfor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami,
sisanya dari pelapukan bahan organik. Walaupun sumber fosfor didalam tanah
mineral cukup banyak tanaman masih bisa mengalami kekurangan fosfor. Pasalnya,
sebagian besar fosfor terikat secara kimia oleh unsur lain menjadi senyawa yang
sukar larut didalam air. Mungkin hanya 1% fosfor yang dapat dimanfaatkan
tanaman (Ridwan, 2008).
Seperti
unsur hara lainnya, kalium bukanlah komponen dari protein, karbohidrat atau
beberapa substansi lainnya didalam tumbuhan. Kalium dengan mudah diserap oleh
akar tanaman. Dan sebagian besar ion kalium (K+) disimpan didalam sel
tumbuh-tumbuhan. Ion-ion K+ didalam air tanah dan ion-ion K+ yang diadsorpsi,
dapat langsung diserap. Disamping itu tanah mengandung juga persediaan mineral
tertentu dalam bentuk berbagai macam silikat, dimana kalium membebaskan diri sebagai
akibat dari pengaruh iklim (Sudradjat, 2007).
2.6
Pupuk dan Pemupukan
Pupuk
adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi
tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam pengertian
yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara
tanaman (Yuwono, 2007).
Dalam
pertanian modern, penggunaan materi yang berupa pupuk adalah mutlak untuk
memacu tingkat produksi tanaman yang diharapkan. Seperti telah diketahui
bersama bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar dipasaran sangatlah beragam,
baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, maupun kemasannya. Pupuk–pupuk tersebut
hampir 90% sudah mampu memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman, dari unsur
makro hingga unsur yang berbentuk mikro. Kalau tindakan pemupukan untuk
menambah bahan-bahan yang kurang tidak segera dilakukan tanaman akan tumbuh
kurang sempurna, misalnya menguning, tergantung pada jenis zat yang kurang (Musnamar,
2005).
Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang
dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam
bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk
dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.Pemberian bahan
yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia atau
biologis disebut pembenahan tanah (amandement) yang berarti perbaikan
(reparation) atau penggantian (Yuwono, 2007).
III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi
cangkul, meteran, sabit, gembor, koret, dan meteran kain. Sedangkan bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini meliputi bibit tebu, air, pupuk kompos dan
pupuk urea, pupuk TSP dan pupuk KCL.
3.2 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang digunakan
dalam praktikum adalah sebagai berikut.
3.2.1 Pengolahan lahan
1. Disiapkan alat yang akan digunakan untuk
pengolahan lahan
2. Diukur luas lahan yang akan
diolah kemudian dibagi menjadi 15 bagian, dengan ukuran 4m x 5m
3. Dibersihkan gulma dan
semak-semak dari plot yang sudah dibagi kemudian dibersihkan lahan dari bonggol
tebu yang tersisa di lahan
4. Diolah tanahnya agar struktur tanahnya
menjadi gembur
5. Dibentuk guludan sebanyak 5 buah.
3.2.2 Penanaman
1. Disiapkan bibit tebu yang akan digunakan
sebagai bahan tanam
2. Dipotong-potong bibit tebu dengan 3 ruas dan
2 buku
3. Bibit kemudian ditanam dalam
roraks dengan posisi mata tunas berada disamping kemudian ditimbun dengan tanah
dan dibentuk guludan kembali
4. Disiram bibit yang sudah ditanaman agar
proses imbibisi dapat terjadi.
3.2.3 Pemupukan
Dilakukan
pemupukan untuk masing-masing perlakuan Untuk
perlakuan A dengan perlakuan NPK(Urea 300kg, TSP 150kg, dan KCL 300kg). Untuk
perlakuan B dengan perlakuan pupuk kompos 10 ton. Untuk perlakuan C dengan
perlakuan pupuk NPK+ ½ kompos. Untuk perlakuan D dengan perlakuan ½ NPK +
kompos dan perlakuan E dengan perlakuan kontrol atau tidak dilakukan pemupukan.
3.2.4 Pemeliharaan
Pemeliharaan dalam praktikum teknik budidaya
dan pemupukan tanaman tebu ini meliputi penyiraman, penyulaman, serta
penyiangan.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan sebanyak 2 hari sekali
karena air yang digunakan untuk menyiram tidak ada, sehingga bibit mengalami
kekurangan air. Seharusnya penyiraman dilakukan 2 kali sehari, karena tanaman
membutuhkan air untuk berimbibisi sedangkan untuk bulan selanjutnya penyiraman
dilakukan 2 hari sekali. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor sampai
tanah dalam keadaan lembab.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada minggu
ke-4 saat tanaman tebu tidak ada yang tumbuh karena setelah tebu dibongkar ternyata
bibit tebu mengalami kekeringan, sehingga tebu tidak tumbuh.
c. Penyiangan Gulma
Penyiangan gulma dilakukan
selama 1 minggu sekali.Penyiangan bertujuan agar tidak terjadi
kompetisi dalam mendapatkan nutrisi antara gulma dengan tanaman tebu.
3.2.5 Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap minggu selama 8
minggu. Sebelum pengamatan, hal yang dilakukan adalah menentukan sampel
sebanyak 5 sampel dengan metode random
sampling yaitu menetukan sampel secara acak. Tanaman yang dijadikan sampel adalah tanaman yang berada didalam.
Setelah sampel ditentukan kemudian dipasang label dengan nomor 1 sampai dengan
5 supaya sampel tidak tertukar. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui tingkat
pertumbuhan tanaman tebu.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil yang didapat dari praktikum ini adalah sebagai
berikut.
Tabel
1. Data pertumbuhan tanaman tebu pada
minggu ke-8.
Perlakuan
|
Tinggi
Tanaman
|
Jumlah
Daun
|
NPK
|
126,93
|
11
|
Kompos
|
126,46
|
10
|
NPK + ½
Kompos
|
126,26
|
10
|
½ NPK + Kompos
|
126
|
11
|
Kontrol
|
117,66
|
10
|
4.2
Pembahasan
Pada praktikum pupuk dan pemupukan ini dilakukan
budidaya tanaman tebu dengan pengamatan selama 8 minggu menggunakan perlakuan
NPK, kompos, NPK + ½ kompos, ½ NPK + kompos dan kontrol. Praktikum ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan tanaman
tebu.
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa rata-rata
tinggi tanaman dan rata-rata jumlah daun untuk masing-masing perlakuan. Hasil
pengamatan masing-masing perlakuan setelah 8 minggu rata-rata tinggi tanaman
dengan perlakuan NPK adalah 126,93 cm, perlakuan pupuk kompos 126, 46 cm,
perlakuan NPK + ½ kompos adalah 126, 26 cm, ½ NPK+kompos adalah 126 cm, serta
control adalah 117,66 cm. Sedangkan hasil pengamatan untuk rata-rata jumlah daun selama 8 minggu untuk
masing-masing perlakuan antaralain, perlakuan NPK sebanyak 11 helai, perlakuan kompos
sebanyak 10 helai, NPK + ½ kompos sebanyak 10 helai, ½ NPK+kompos sebanyak 11,
serta kompos sebanyak 10 helai.
Dari hasil pengamatan selama 8 minggu tersebut
maka dapat diketahui secara berurutan
bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi adalah tanaman dengan perlakuan
NPK, kompos, NPK + ½ kompos, perlakuan ½ NPK + kompos, dan kontrol.
Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1 dapat diketahui bahwa pemberian pupuk menunjukkan, pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tanaman tebu. Tinggi tanaman menggambarkan pertumbuhan dari
tanaman tersebut, dengan demikian dapat dikatakan semakin tinggi tanamannya maka
pertumbuhan tanaman semakin baik. Hal ini disebabkan karena pupuk merupakan
bahan yang mengandung nutrisi bagi tanaman sehingga dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu (Mulyana, 2001).
Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran dan volume
yang disebabkan oleh pembelahan sel tanaman yang bersifat reversibel atau tidak
dapat balik lagi. Kualitas dari pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi tingkat poduksi
tanaman tersebut yang nantinya juga mempengaruhi kualitas dari produksi yang
dihasilkan tanaman. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor dari dalam
tanaman (faktor internal) dan faktor lingkungan (faktor eksternal). Faktor
lingkungan yang penting bagi pertumbuhan tanaman ialah tanah (unsur hara),
kondisi tanah yang baik akan memberikan media tumbuh yang baik bagi menghasilkan
bobot tebu yang baik (Ahira, 2004).
Selain unsur hara, tanaman juga memerlukan air dalam
pertumbuhannya. Air merupakan kebutuhan biologis utama tanaman. Kekurangan air
akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. begitu pula dengan pertumbuhan
tunas saat penanaman, kurangnya penyiraman menyebabkan bibit tebu kering dan
tidak dapat tumbuh karena air dibutuhkan
untuk menumbuhkan tunas (imbibisi) (Indrianto, 2010).
Tinggi tanaman dengan perlakuan NPK memiliki
rata-rata tinggi yang paling baik dibandingkan dengan pelakuan yang lain hal
ini disebabkan karena pupuk NPK mengandung unsur hara makro yang esensial yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tinggi tanaman paling
rendah yaitu pada perlakuan kontrol. Hal ini dikarenakan tanah tersebut tidak
mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanpa diberi
pupuk tanaman yang berada diatasnya tidak dapat tumbuh dengan subur. Kekurangan
unsur hara juga membuat pertumbuhan tanaman cenderung lambat atau tidak stabil
(Zulfahmi, 2012).
V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini
adalah sebagai berikut.
1.
Budidaya tanaman tebu meliputi persiapan lahan, penanaman, dan
perawatan.
2.
Pemupukan merupakan kegiatan penambahan unsur hara kedalam tanah untuk
memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah.
3. Pemupukan yang baik adalah pemupukan yang
menggunakan lima ketepatan. Yaitu salah satunya tepat jenis. Jenis pupuk yang
baik bagi tanaman tebu adalah pupuk yang mengandung unsur hara esensial bagi
tanaman.
4. Pertumbuhan tanaman tebu yang baik adalah
dengan perlakuan pupuk NPK yaitu dengan tinggi tanaman 126, 93 cm dan jumlah
daun sebanyak 11 helai.
5. Tinggi tanaman paling rendah yaitu pada
perlakuan kontrol. Hal ini dikarenakan tanah tidak mampu menyediakan unsur hara
yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanpa diberi pupuk tanaman yang berada
diatasnya tidak dapat tumbuh dengan subur.
DAFTAR PUSTAKA
Ahira. 2004. Pertanian dan
Perkebunan Mengenal dan Merawat. Kanisius:
Yogyakarta.
Andaka. 2011. Teknik dan Cara Budidaya Tanaman Tebu.
PT Penebar Swadaya. Surabaya.
Deptan. 2006.
Proses Pengomposan Dengan Memanfaatkan
Bakteri EM-4. Departemen Pertanian. Bogor.
Jaerony. 2008. Pupuk
dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.
Kartasapoetra. 1987. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mulyana. 2001. Teori dan Praktek Cocok Tanam
Tebu Dengan Segala
Masalahnya. Aneka
Ilmu. Semarang.
Musnamar. 2005. Pertanian Organik. Kreasiwacana. Yogyakarta.
Nurhayati.
2007. Identifikasi Morfologi Tanaman Tebu. Gramedia. Jakarta.
Ridwan. 2008. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Russel. 1973. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.
Soetopo.
1974. Morfologi dan Fisiologi Tanaman
Tebu. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudradjat. 2007. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sutedjo. 2009. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.
Yuwono. 2007. Pupuk dan Pemupukan. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Zulfahmi.
2012. Pemberian Pupuk organik Sebagai
Solusi Permasalahan Budidaya Tebu Di Lahan Kering. Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
LAMPIRAN
Tabel
2. Pengamatan Rata Rata Tinggi Tanaman Tebu
Semua Perlakuan
Perlakuan
|
NPK
|
Kompos
|
NPK + ½ Kompos
|
½ NPK + Kompos
|
Kontrol
|
Minggu 1
|
25,93
|
17,89
|
12,74
|
20,47
|
20,37
|
Minggu 2
|
43,54
|
33,93
|
32,19
|
53,3
|
37,23
|
Minggu 3
|
60,6
|
47,24
|
50,43
|
54,97
|
53,07
|
Minggu 4
|
70,53
|
66,87
|
62,05
|
69,3
|
70,47
|
Minggu 5
|
85
|
86,93
|
70,8
|
78,87
|
82,03
|
Minggu 6
|
95,03
|
94,87
|
84,8
|
94,2
|
96,6
|
Minggu 7
|
108,7
|
107,3
|
103
|
109,1
|
108,2
|
Minggu 8
|
126,9
|
126,5
|
126,2
|
126
|
117,9
|
Tabel 3. Pengamatan
Rata Rata Jumlah Daun Tanaman Tebu Semua Perlakuan.
Perlakuan
|
NPK
|
Kompos
|
NPK + ½ Kompos
|
½ NPK + Kompos
|
Kontrol
|
Minggu 1
|
3
|
3
|
3
|
3
|
4
|
Minggu 2
|
4
|
4
|
6
|
5
|
5
|
Minggu 3
|
5
|
5
|
6
|
6
|
6
|
Minggu 4
|
6
|
6
|
6
|
7
|
6
|
Minggu 5
|
7
|
8
|
7
|
8
|
8
|
Minggu 6
|
8
|
9
|
8
|
9
|
9
|
Minggu 7
|
10
|
9
|
9
|
11
|
10
|
Minggu 8
|
11
|
10
|
10
|
11
|
10
|

The King Casino Review - CommunityKhabar.com
BalasHapusThe King Casino Review · 더킹카지노 Casino software – 100% secure · Software – Live casino · Software – Gaming vua nhà cái · Customer support – Security · Live starvegad chat – Welcome Bonus.