ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI KELAPA
SAWIT DI KABUPATEN WAY KANAN
(Tugas
Mata Kuliah Analisis Usaha Peerkebunan)
Oleh:
M. Ali Furqon
|
1304122037
|
Muhammad Badrun
|
1304122042
|
Muslimin
|
1304122043
|
Tiyas Septiyadi
|
1304122066
|
PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Laporan Analisis Usaha Tani
Kelapaa sawit di Kabupaten Way kanan ini dibuat dalam rangka menyelesaikan
tugas Analisis Usaha Perkebunan, Serta menambah wawasan dan pengetahuan bahwa
suatu usaha tani yang dikelola oleh petani sesuai dan layak diusahakan atau
tidak.
Kepada semua pihak, baik yang langsung
maupun tidak langsung , yang ikut membantu terwujudnya laporan ini, saya
ucapkan terima kasih. Saya mengucapkan terima kasih kepada: Firdasari, M.Si,
Ani Suryani, M.Si dan Dr.Ir.F.E Prasmatiwi (selaku dosen pembimbing) yang telah
membimbing dan memberikan arahan, serta Tri Yunita Sari dan Marcela Yunati
(selaku asisten dosen) yang juga telah membimbing dan memberikan arahan, serta
teman-teman yang telah memberikan dorongan dan semangat sampai terwujudnya
laporan ini.
Bandar
Lampun, 21 Juni 2014
Penyusun
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kelapa sawit merupakan komiditi utama perkebunan di Indonesia. Yang memiliki peranan dan arti penting bagi
pembangunan perkebunan nasional. Komoditas kelapa
sawit mempunyai peran yang cukup strategis
dalam perekonomian Indonesia.Pertama, minyak sawit
merupakan bahan utama
minyak goreng, sehingga pasokan yang kontinu ikut
menjaga kestabilan harga minyak goreng.
Kedua, sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas,komoditas ini memiliki prospek yang baik sebagai sumber perolehan devisa maupun pajak. Ketiga, dalam proses produksi maupun pengolahan
juga mampu menciptakan kesempatan kerja
dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Pengembangan agribisnis kelapa sawit
masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan
produk. Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi
kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan
semakin berkembangnya industri hilir.
Potensi perkebunan di
Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu sektor yang potensial untuk
dikembangkan, areal perkebunan Kabupaten Way Kanan mencakup areal seluas
145.989,30 Ha, yang didominasi oleh tanaman kelapa sawit Perusahaan 28.146,80
Ha dan perkebunan rakyat seluas dari TBM:11,150 ha TM:3,638 ha TTM:775
ha dengan jumlah produksi hasil
perkebunan rakyat 30.505 Ton/thn.
Tanaman perkebunan yang berada di Kabupaten Way Kanan yang lain adalah: karet, kopi,
lada, kakao, dan cengkeh
(Disbun, 2012).
1.2 Tujuan
Tujuan
dilakukan pengamatan ini adalah sebagai berikut
1. Mengetahui pendapatan usaha tani kelapa sawit,
2. Mengetahui Keuntungan usaha tani kelapa sawit.
II. TINJAUN PUSTAKA
2.1 Budidaya kelapa sawit
Kelapa sawit merupakan tanaman multiguna. Tanaman
ini mulai banyak
menggantikan posisi penanaman komoditas perkebunan
lain, yaitu tanaman karet.
Tanaman sawit kini tersebar di berbagai daerah di
Indonesia (Suwarto, 2010).
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal
dari Nigeria, Afrika Barat.
Kelapa sawit merupakanan tanaman monokotil. Tanaman
ini berakar serabut yang
berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah,
respirasi tanaman dan sebagai
penyangga berdirinya tanaman. Batangnya tidak
mempunyai kambium dan
umumnya tidak bercabang. batang kelapa sawit
berbentuk silinder dengan
diameter 20-75 cm. pada tanaman muda, batang tidak
terlihat karena tertutup oleh
pelepah daun.
Daun kelapa sawit mirip daun kelapa, yaitu membentuk
susunan daun majemuk,
bersirip genap, dan bertulang daun sejajar.
Daun-daun ini membentuk pelepah
yang panjangnya mencapai lebih dari 7,5-9m. Kelapa
sawit merupakan tanaman
berumah satu (monoecious), artinya bunga jantan dan
betina terdapat dalam satu
tanaman serta masing-masing terangkai dalam satu
tandan. Rangkaian bunga
jantan dihasilkan dengan siklus yang bergantian
dengan bunga betina sehingga
pembungaan secara bersamaan jarang terjadi. Buah
(fructus) pada kelapa sawit
dihasilkan setelah tanaman berumur 3,5 tahun dan
diperlukan waktu 5-6 bulan
dari penyerbukan hingga buah matang dan siap dipanen
(Fauzi, 2002).
Luasnya daerah-daerah Indonesia yang berpotensi
untuk diusahakan menjadi areal
perkebunan mendukung pertumbuhan bisnis tanaman
kelapa sawit di Indonesia.
Selain itu, faktor lain yang mendukung pertumbuhan
tanaman perkebunan adalah
faktor agroklimat. Dari sisi agroklimat, tanaman
kelapa sawit dapat tumbuh pada
ketinggian 100-1.700 m dpl, curah hujan 2.000-3.000
mm/tahun, suhu 22-32 °C
dengan kelembapan 80-90 %, serta pH tanah 4,0-6,0
(Anonimous, 2008).
Dilihat dari pengusahaannya, perkebunan kelapa sawit
Indonesia dibagi menjadi
tiga, yaitu Perkebunan Rakyat, Perkebunan Besar
Negara, dan Perkebunan Besar
Swasta. Perkebunan rakyat adalah perkebunan kelapa
sawit yang dikelola oleh
rakyat memilki luas lahan yang terbatas, yaitu 1-10
ha. Dengan luas lahan
tersebut, tentunya menghasilkan produksi TBS yang
terbatas pula sehingga
penjualannya sulit dilakukan apabila ingin menjualnya
langsung ke prosesor /
industri pengolah (Fauzi, 2012).
2.2 Teori usaha tani
Sebuah usahatani adalah sebagian dari permukaan bumi
di mana seorang
petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha
lainnya bercocok tanam atau
memelihara ternak. Usahatani pada dasarnya adalah
sebidang tanah
(A.T. Mosher, 1987).
Usahatani
adalah organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada
produksi pertanian. Petani sebagai pengelola usahatani termasuk pembiayaannya
adalah seseorang yang membutuhkan dan berperan dalam perencanaan bisnis yang
meliputi penyediaan dan pengalokasian dana, menciptakan dana melalui
pengendalian sumber-sumber serta mengelolanya dalam kegiatan produksi seefektif
mungkin. Dengan demikian petani tidak boleh salah langkah dalam tindakannya
untuk mencapai tujuan produksi tersebut (Hernanto,1988).
Usahatani
dapat dikatakan berhasil minimal harus dapat menghasilkan cukup pendapatan
untuk membayar biaya semua alat yang diperlukan, bunga modal, upah tenaga kerja
petani dan keluarganya yang digunakan untuk usahatani secara layak dan dapat
mempertahankan keadaan usahatani sedikitnya berada dalam keadaan semula
(Hadisaputro, 1973).
Ketika
membicarakan laba, kebanyakan orang mengaitkannya dengan uang sisa dari
pendapatan, setelah dikurangi semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
pendapatan itu. Laba besarnya mengacu pada surplus atau kelebihan pendapatan
atas biaya (keuntungan netto dari suatu proses produksi). Menurut kami, laba
adalah perbedaan antara pendapatan kotor (Gross Income) dan biaya
operasi (Operating Cost). Biaya operasi adalah jumlah semua biaya
tidak tetap ditambah biaya tetap untuk operasi (bukan biaya tetap total).
Dengan kata lain, laba adalah marjin kotor total kurang biaya tetap untuk
operasi (Makeham, 1999).
Efisiensi
usahatani memberikan batas layak dan tidaknya suatu usahatani dilaksanakan.
Perhitungan efisiensinya menggunakan biaya dalam usahatani dianalisis melalui
imbangan antara penerimaan total dengan biaya total yang disebut Return and Cost Ratio (R/C ratio). Pada metode ini
mengandung arti bahwa tingkat efisiensi usahatani diukur atas dasar keuntungan
(A.T. Mosher, 1987).
Setiap petani memperhitungkan biaya dan
hasil, betapapun primitif atau majunya metoda bertaninya. Pertimbangannya
mengenai biaya selalu mencakup jerih-payah yang harus ia curahkan. Biaya tunai
untuk peralatan dan bahan yang ia pergunakan pun diperhitungkannya. Ia
memperhitungkan pula dana-dana untuk menghadapi berbagai resiko kegagalan
panen, kemungkinan jatuhnya harga pasar pada waktu panen dan ketidak-pastian
tentang efektifnya metoda-metoda baru yang sedang ia pertimbangkan. Ia mungkin
memperhitungkan juga adanya ketidak-senangan keluarga, teman atau tetangganya
terhadap penyimpangan dari pola bercocok-tanam yang sudah lazim atau dari
tradisi masyarakat maengenai apa yang “pantas” atau “tidak pantas” dilakukannya
(A.T. Mosher, 1987).
III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di Kabupaten Way
Kanan pada Kecamatan Kasui, Negri Agung, Bahuga dan Baradatu.
3.2 Pengambilan sampel dan waktu penelitian
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
sengaja terhadap 12 responden. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini
adalah data primer. Teknik pengumpulan data primer diperoleh dengan cara observasi
langsung kelokasi penelitian dan mengadakan wawancara dengan petani responden
menggunakan alat bantu kuisioner. Data tersebut digunakan untuk mengetahui
identitas responden, luas lahan, kepemilikan alat-alat pertanian, penggunaan
input dan biaya, dan jumlah produksi. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17
Mei 2014
3.3 Metode analisis data
Dalam penelitian komoditas kelapa sawit
ini, kami menggunakan analisis data
kuantitatif dan kualitatif.Analisis data
kuantitatif digunakan untuk:
1. Total biaya
Menurut Sudarsono (1995), total biaya
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
TC = TFC + TVC
Keterangan:
TC = Total Biaya/Total Cost (Rp/th)
TFC = Total Biaya Tetap / Total Fixed
Cost (Rp/th)
TVC = Total Biaya Variabel/Total
Variable Cost (Rp/th)
2.
Penerimaan
Sudarsono (1995),
penerimaan pada bidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam bentuk
uang sebelum dikurangi dengan biaya pengeluaran selama kegiatan usahatani,
dengan menggunakan rumus:
TR = P. Q
Keterangan:
TR = Total Penerimaan/Total
revenue (Rp/kg)
P = Harga Produk/Price (Rp kg-1),
dan Q = Jumlah produk/Quantity (kg).
3.
Pendapatan
Sudarsono (1995), pendapatan diperoleh
dari hasil penerimaan dikurangi dengan biaya total, dengan rumus sebagai
berikut:
I = TR – TC
Keterangan:
I = Pendapatan/Income (Rp),
TR =Total Penerimaan/ Total revenue (Rp)
TC = Total Biaya/Total Cost (Rp)
4.
Efisiensi Usahatani Kelapa Sawit
Sudarsono (1995), efisiensi diartikan
sebagai upaya mengalokasikan input untuk mendapatkan produksi yang
maksimal. Tingkat efisiensi usahatani dapat dinilai dari hasil perbandingan
antara nilai keluaran (output) dan nilai masukan (input).
Dalam analisis ekonomi, efisiensi
bertindak sebagai alat ukur untuk mengukur atau mengetahui keuntungan dari usaha.
R/C ratio = TR/TC
Keterangan:
R/C ratio = Perbandingan antara
penerimaan dan biaya,
TR = Total penerimaan/Total Revenue (Rp
th-1).
TC = Biaya Total/Total Cost (Rp
th-1).
Keputusan:
1. Jika R/C Ratio > 1, usaha yang
dilakukan secara ekonomi dikatakan efisien, ini berarti usaha tersebut
menguntungkan.
2. Jika R/C Ratio < 1, usaha yang
dilakukan secara ekonomi dikatakan tidak efisien, ini berarti usaha tersebut
tidak menguntungkan.
Analisis data kualitatif
digunakan untuk mendeskripsikan usaha perkebunan
kelapa sawit di
Kabupaten Way Kanan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil responden
4.1.1 Umur petani responden
Hasil petani terhadap responden
diketahui bahwa umur petani kelapa sawit umumnya bervariasi yaitu antara 30
tahun hingga 77 tahun dengan rata-rata umur responden 51,4 tahun. Umur petani
sangat mempengaruhi hasil akhir, karena umur petani mempengaruhi produktivitas
dan seberapa besar petani mencurahkan tenaganya dalam kegiatan usahatani.
Tabel 1. Sebaran
umur petani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan
kelompok Umur
|
jumlah orang
|
presentase
|
(tahun)
|
||
15-30
|
-
|
0%
|
31-60
|
10
|
83,33%
|
61-77
|
2
|
16,67%
|
jumlah
|
12
|
100%
|
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui
mayoritas umur petani responden adalah umur 30-60 tahun sebanyak 10 orang
dengan presentase 83,33%.
4.1.2 Pendidikan petani responden
Pendidikan merupakan salah satu faktor
penting yang dapat mempengaruhi cara petani dalam mengelola usahataninya.
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap pendapatan dan hasil produksi
petani, juga terhadap kemampuan petani dalam menerapkan informasi baru dalam
bidang pertanian dan membantu petani dalam mengambil keputusan serta dalam
memecahkan masalah yang dihadapi petani dalam mengelola usahataninya.
Petani responden pada daerah penelitian
ini memiliki tingkat pendidikan yang beragam. Sebaran tingkat pendidikan
rata-rata petani responden dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat pendidikan petani responden di
Kabupaten Way Kanan
Tingkat
|
jumlah orang
|
presentase
|
Pendidikan
|
||
SD
|
9
|
75%
|
SMP
|
1
|
8,33%
|
SMA
|
2
|
16,67%
|
jumlah
|
12
|
100%
|
Dari tabel 2 dapat dietahui bahwa
tingkat pendidikan responden terbanyak adalah tingkat SD sebanyak 9 0rang
dengaan presentase 75%.
4.1.3 Jumlah tanggungan keluarga
Jumlah tanggungan keluarga juga
merupakan faktor yang penting dalam usahatani, karena semakin banyak jumlah
tanggungan keluarga maka pendapatan yang diperoleh akan semakin kecil karena di
pengaruhi oleh biaya hidup. Akan tetapi, tanggungan keluarga yang telah berada
pada usia produktif untuk bekerja maka akan menambah tenaga kerja dan dapat
meningkatkan produksi usahatani serta dapat menambah pendapatan usahataninya
tersebut.
Tabel 3. Tanggungan keluarga petani responden di
Kabupaten Way Kanan
Tanggungan rumah tangga
|
jumlah orang
|
presentase
|
(orang)
|
||
1-2
|
-
|
0%
|
3-4
|
5
|
41,67%
|
5-6
|
7
|
58,33%
|
jumlah
|
12
|
100%
|
Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa 7
orang responden menanggung 5-6 orang dengan presentase 58%, sedangkan 5 orang
responden menanggung 3-4 0rang dengan presentase 41,67%.
4.1.4 Penguasaan lahan pertanian
Luas lahan merupakan total lahan
yang digunakan petani kelapa sawit
untuk berusaha tani terung. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat
diketahui bahwa rata-rata luas lahan garapan dari petani kelapa sawit di Kabupaten way Kanan adalah 1,36 hektar.
Tabel 4. Luas lahan kelapa sawit yang dimiliki
responden di Kabupaten Way kanan.
luas lahan
|
jumlah orang
|
presentase
|
(hektar)
|
||
1 - 1,5
|
9
|
75%
|
1,6 - 2
|
2
|
8,33%
|
2,1 - 3
|
1
|
16,67%
|
jumlah
|
12
|
100%
|
Dari tabel 4 diketahui bahwa 9 responden
memiliki 1-1,5 hektar (75%), 2 responden memiliki 1,6-2 hektar (8,33%)
sedangkan 1 orang memiliki 2,1-3 hektar (16,67%).
4.2 Penggunaan sarana produksi dan biaya
4.2.1 Sarana Produksi
Sarana produksi pertanian yang digunakan
oleh petani responden yaitu lahan, benih, pupuk urea, pupuk NPK, pestisida, dan
tenaga kerja. Sebagian besar sarana produksi tersebut didapat petani dengan
cara membeli dan penggunaannya disesuaikan dengan luasan lahan kelapa sawit
yang diusahakan oleh petani.
1. Penggunaan benih
Pembibitan dalam
tanaman perkebunan merupakan investasi jangka panjang karena hasilnya masih
akan dinikmati beberapa tahun lagi. Untuk mendapatkan bibit yang unggul dan
bermutu adalah bibit yang bersertifikat
dari balai benih. Benih yang unggul dapat mendapatkan hasil yang lebih
tinggi.
Rata-rata
penggunaan bibit kelapa sawit oleh petani responden adalah 201,67 . Dengan harga tiap bibit Rp
26.250.
2. Penggunaan pupuk
Jenis
pupuk yang digunakan dalam penelitian oleh responden adalah pupuk Urea dan NPK.
Alasan petani menggunakan pupuk jenis ini karena merupakan pupuk bersubsidi
yang murah dan terjangkau. Dengan rata-rata harga pupuk untuk urea sebesar Rp
2.200 dan NPK Rp 7.000,
Tabel 5. Rata-rata penggunaan pupuk per hektar dalam
satu kali proses produksi (1 tahun) di Kabupaten Way Kanan.
Jenis pupuk
|
Penggunaan pupuk
|
Urea
|
319,54 kg
|
NPK
|
440,87 kg
|
3. Penggunaan obat-obatan
Jenis pestisida
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Roundup. Pada jenis pestisida ini
tidak semua petani responden menggunakan, tetapi hanya beberapa yang
menggunakan pestisida ini tergantung usia tanaman kelapa sawit di lokasi
penelitian yaitu biasanya pada tanaman yang masih usia muda, gulma yang terlalu
berat dan pengendalian hama. Rata-rata
penggunaan pestisida oleh responden dalam 1 hektar (1 tahun terakhir)
adalah 7,58 liter dengan harga Rp 55000.
4. Penggunaan tenaga kerja
Tenaga kerja
merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam mengelola usahatani. Tenaga-tenaga tersebut terdiri dari tenaga
kerja luar keluarga (TKLK) dan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) yang dihitung
degan satuan (HKP) dengan upah rata-rata
per HKP Rp 40.000.
Tabel 6. Penggunaan tenaga kerja manusia rata-rata per
hektar dalam per tahunnya untuk usahatani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan
dalam satuan (HKP).
Macam
jenis
|
Jumlah
HKP
|
TKLK
|
82,57
|
TKDK
|
18,32
|
5. Penggunaan peralatan
Jenis alat-alat
pertanian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dodos, egrek, parang,
cangkul roli, dan sprayer. Dengan rata-rata umur ekonois antara 4—5 tahun.
Tabel 7. Rata-rata nilai penyusutan dari peralatan per
tahun untuk usahatani Kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan.
Jenis alat
|
Nilai
penyusutan (Rp/tahun)
|
Cangkul
|
9922,61
|
egrek
|
20738,09
|
Golok
|
7657,73
|
Sprayer
|
64548,61
|
dodos
|
20666,66
|
roli
|
59434,52
|
Rata-rata penyusutan
|
30.495
|
4.2.2 Biaya-biaya
Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya
tunai dan biaya yang diperhitungkan.
1. Biaya Tunai
Biaya tunai
merupakan biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Biaya yang
dikeluarkan oleh responden meliputi pupuk, Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK),
obat-obatan dan pajak.
Tabel 8. Total
biaya tunai yanng digunakan oleh responden di Kabupaten Way Kanan.
uraian
|
Harga
|
Fisik
|
nilai
|
urea
|
2200
|
434,58
|
956.076
|
NPK
|
7000
|
599,5833
|
4.197.083
|
round up
|
55000
|
7,58
|
416.900
|
TK LK (HKP)
|
40000
|
112,25
|
4.490.000
|
pajak
|
6.250
|
||
jumlah
|
10.066.309
|
2. Biaya Diperhitungkan
Biaya
diperhitungkan meliputi penyusutan alat, TKDK dan biaya Investasi pertahun.
Tabel 9. Total
biaya diperhitungkan yang digunakan oleh responden di Kabupaten Way Kanan.
uraian
|
harga
|
fisik
|
nilai
|
|
a. Penyusutan alat
|
30.495
|
|||
b. Biaya investasi/tahun
|
915.366
|
|||
c. TKDK
|
40000
|
25
|
1.000.000
|
|
jumlah
|
1.945.860
|
|||
4.3 Produksi dan Penerimaan
Tabel 10. tabel penerimaan oleh responden di Kabupaten
Way Kanan.
Uraian
|
luas lahan
|
Per hektar
|
||
(Ha)
|
Harga/satuan
|
Fisik
|
Nilai
|
|
Umur tanaman (7,75 tahun)
|
||||
Penerimaan sawit
|
||||
bulan 1
|
1,36
|
1500
|
747,97794
|
1.121.967
|
bulan 2
|
1,36
|
1500
|
819,85294
|
1.229.779
|
bulan 3
|
1,36
|
1500
|
920,95588
|
1.381.434
|
bulan 4
|
1,36
|
1500
|
941,97059
|
1.412.956
|
bulan 5
|
1,36
|
1500
|
979,34559
|
1.469.018
|
bulan 6
|
1,36
|
1500
|
1064,3382
|
1.596.507
|
bulan 7
|
1,36
|
1500
|
1101,4044
|
1.652.107
|
bulan 8
|
1,36
|
1500
|
1103,6765
|
1.655.515
|
bulan 9
|
1,36
|
1500
|
1151,4706
|
1.727.206
|
bula10
|
1,36
|
1500
|
1305,7574
|
1.958.636
|
Bula11
|
1,36
|
1500
|
1330,0221
|
1.995.033
|
bula12
|
1,36
|
1500
|
1294,1765
|
1.941.265
|
jumlah penerimaan
|
19.141.423
|
|||
Penerimaan
usahatani kelapa sawit diperoleh dari hasil produksi kelapa sawit dikalikan harga produk
yang dinyatakan dalam rupiah.
5. Analisis pendapatan
Keuntungan petani
adalah penerimaan yang diperoleh dikurangi dengan seluruh biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam proses produksi.
Tabel 11. Analisis keuntungan usahatani kelapa sawit dalam 1 tahun di
Kabupaten Way Kanan.
Uraian
|
luas lahan
|
Per usahatani
|
Per hektar
|
|||
(Ha)
|
Harga/satuan
|
Fisik
|
Nilai
|
Fisik
|
Nilai
|
|
Umur tanaman (7,75 tahun)
|
||||||
biaya investasi
|
||||||
beli bibit
|
26250
|
201,67
|
5293837,5
|
148,2867647
|
3892527,6
|
|
pajak
|
18750
|
13786,765
|
||||
tenaga kerja
|
40000
|
53,67
|
2146800
|
39,46323529
|
1578529,4
|
|
NPK
|
7000
|
1466,667
|
10266666,7
|
1078,431373
|
7549019,6
|
|
urea
|
2200
|
1775,833
|
3906833,33
|
1305,759804
|
2872671,6
|
|
obat-obatan
|
55000
|
22,75
|
1251250
|
16,72794118
|
920036,76
|
|
total biya investasi
|
22884138
|
16826572
|
||||
biaya investasi/tahun
|
915365,5
|
673062,9
|
||||
Biaya tunai
|
||||||
a.Pupuk:
|
||||||
1.urea
|
2200
|
434,58
|
956076
|
319,5441176
|
702997,06
|
|
2. NPK
|
7000
|
599,5833
|
4197083,33
|
440,870098
|
3086090,7
|
|
b.Obat-obatan
|
||||||
1. round up
|
55000
|
7,58
|
416900
|
5,573529412
|
306544,12
|
|
c.TK LK (HKP)
|
40000
|
112,25
|
4490000
|
82,53676471
|
3301470,6
|
|
d. pajak
|
6250
|
4595,5882
|
||||
Subtotal Biaya Tunai
|
10066309
|
7401698
|
||||
Biaya diperhitungkan
|
||||||
a. Penyusutan alat
|
30494,709
|
22422,58
|
||||
b. Biaya investasi/tahun
|
915365,5
|
673062,87
|
||||
c. TKDK
|
40000
|
25
|
1000000
|
18,38235294
|
735294,12
|
|
Subtotal Biaya diperhitungkan
|
1945860,2
|
1430780
|
||||
Total Biaya
|
12012170
|
8832478
|
||||
Keuntungan atas Biaya tunai
|
15966026
|
11739725
|
||||
Keuntungan atas biaya Total
|
14020165
|
10308945
|
||||
R/C atas biaya tunai
|
2,5860853
|
2.58
|
||||
R/c atas biaya total
|
2,1671635
|
2,16
|
||||
Penerimaan
petani kelapa sawit adalah sebesar Rp 19.141.423 dalam 1 hektar. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani
untuk setiap musim tanam dalam 1 tahun terdiri dari biaya tunai (biaya
pembelian pupuk, bibit, obat-obatan, biaya TK luar keluarga, dan pajak), dan
biaya yang diperhitungkan (upah tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan
alat-alat pertanian,dan sewa lahan).
Berdasarkan
tabel 11 diperoleh
nisbah penerimaan dengan biaya (R/C ratio). Besarnya
R/C ratio
atas biaya tunai yang diperoleh dalam usahatani kelapa
sawit di Kabupaten Way
Kanan adalah 2,58
yang artinya setiap
Rp. 1,00
biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani terung
akan diperoleh penerimaan
sebesar 2,58. Sedangkan
besarnya R/C ratio atas biaya total yang diperoleh dalam usahatani terung di Kabupaten
Pesawaran adalah 2,16 yang artinya setiap Rp. 1,00 biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani terung
akan diperoleh penerimaan
sebesar 2,16. Besarnya
nisbah penerimaan dengan biaya tersebut menunjukan bahwa usahatani terung
memberikan keuntungan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Produksi kelapa sawit rata-rata petani adalah 1063 kg pada luas lahan
rata-rata 1 ha. Dengan harga rata-rata Rp 1500 Penerimaan petani terung adalah
sebesar Rp 19.141.423
2. Usahatani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan
menguntungkan dengan pendapatan atas
biaya tunai sebesar Rp 11.739.725 dan pendapatan atas
biaya total sebesar Rp 10.308.945
3. Besarnya nisbah
penerimaan terhadap biaya tunai yang diperoleh dalam usahatani terung di Kabupaten Pesawaran adalah 2,58.
Sedangkan besarnya nisbah penerimaan terhadap biaya
total yang diperoleh dalam
usahatani terung di Kabupaten Way Kanan adalah 2,16.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil
kesimpulan di atas, maka saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut:
1. Memperbaiki sarana transportasi dan
infrastruktur agar dapat memperlancar proses usahatani kelapa sawit terutama
dalam proses pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) dari lokasi penanaman kelapa
sawit ke Pabrik kelapa Sawit (PKS) Perusahaan agar dapat berjalan dengan
efisien.
2.
Membangun dan memberikan fasilitas terhadap Koperasi Unit Desa (KUD) agar staf
dan anggota-anggota KUD dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan efektif
serta dapat mengkooordinir hasil produksi TBS petani dengan baik.
3. KUD
dapat mengkoordinir dan menyediakan pupuk tepat waktu untuk petani agar tidak
ada keterlambatan dalam proses pemupukan usahatani kelapa sawit tersebut.
4.
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dapat memberikan penyuluhan yang bersifat
membangun terhadap petani agar petani dapat memperoleh pengetahuan-pengetahuan
yang luas dalam mengelola usahatani kelapa sawit tersebut, agar dapat
memperoleh pendapatan TBS yang semakin tinggi dan semakin berkualitas.
DAFTAR
PUSTAKA
A.T. Mosher. 1987. Ilmu
Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani perkebunan . Raja grafindo
persada. Jakarta
Anonimous. 2008. Panduan budidaya kelapa sawit. Erlangga.
Jakarta
Fauzi. 2002. Budidaya dan Pemanfaatan limbah kelapa sawit.
Raja grafindo persada. Jakarta
Fauzi. 2012. Budidaya
dan Pemanfaatan limbah kelapa sawit. Raja grafindo persada. Jakarta
Hadisaputro. 1973.
Usaha tani perkebunan. gramedia. jakarta
Hernanto. 1988. Pengetahuan
Usahatani Indonesia. Erlangga. Jakarta
Makeham. 1999. Pengetahuan
usaha tani perkebunan. Erlangga. Jakarta
Suwarto. 2010. Budidaya dan pengolahan kelapa sawit.
Kanisius: Yogyakarta
LIGASUPER88 Pusat Games Taruhan Online TerBaik Dan Terpercaya !!!!!
BalasHapusPromo Spesial :
» New Member Sportsbook 30%
» New Member Live Casino 30%
» New Member Slot Online 50%
» Cashback Sportsbook 10%
» Rollingan Live Casino 1%
» Rollingan Slot Online 1%
Permainan Tersedia :
» Sbobet Sportsbook
» Sbobet Casino
» Sbobet Toto Draw
» Ibcbet/Maxbet
» Sabung Ayam
» Tembak Ikan
» Slot Pragmatic Play
» Slot Habanero
» Slot Spadegaming
» Slot Joker
» Slot Microgaming
» Slot Toptrend
» WM Casino
» Sexy Bacccarat
» Ebet Casino
Support Bank Ligasuper88 :
BCA >MANDIRI >DANA >BNI >BRI > GO PAY > OVO > PANIN > ATM BERSAMA
Daftar & Jutawan Sekarang Juga !
Hubungi Kontak Kami Dibawah ini (Online 24 Jam Setiap Hari) :
» Whatsaap 1 : +85561375501
» Whatsaap 2 : 081315849567
» Line : Ligasuper88
» Link : www.ligasuper88.com