DOMINASI APIKAL
PADA KACANG HIJAU DAN PISANG
(Tugas Praktikum Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan)
Oleh:
Muhammad Badrun
1304122042
PROGRAM
STUDI D3 PERKEBUNAN
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2014
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan merupakan proses adanya perubahan pada suatu tumbuhan, baik itu perubahan panjang,volume,maupun berat dari tumbuhan
tersebut. Pertumbuhan tanaman
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Satu diantaranya adalah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada tanaman. Contoh
zat pengatur tumbuh itu antara lain adalah auksin. Auksin dibentuk di koleoptil
atau ujung batang dan akar yang berfungsi pada pemanjangan tunas, akibat dari
dominansi apikal, yaitu terhambatnya pertumbuhan tunas lateral (Dahlia, 2001).
Dominasi apikal
diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk (apikal), dengan tunas samping (lateral) dalam
hal pertumbuhan.
Selama masih ada tunas pucuk pertumbuhan tunas samping akan terhambat sampai batas tertentu. Dominasi apikal disebabkan
oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada
tunas lateral. Hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena
konsentrasinya masih terlalu tinggi. Penghentian dominansi apikal sementara
dengan memotong pucuk akan memengaruhi kondisi hormon tanaman. Melalui
perlakuan ini, auksin yang terakumulasi pada daerah pucuk akan terdistribusi ke
bagian meristem yang lain seperti buku di daerah dekat mata tunas (Sutisna, 2010 ).
1.2 Tujuan
Tujuan dari parktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pengaruh pematahan dominasi apikal
dalam pertumbuhan kacang hijau dan pisang,
2. Mengetahui proses pertumbuhan
tunas lateral pada kacang hijau dan pisang,
3. Mengetahui faktor yang
menyebabkan pertumbuhan pisang rendah,
4. Mengetahui dominasi apikal pada
tanaman perkebunan.
II. METODOLOGI
2.1 Alat
dan Bahan
Alat-Alat yang digunakan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Penggaris
2. Pisau penunas atau cutter
3. Kamera
4. Buku
5. Pena
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Tanaman kacang hijau
2. Air
3. NAA 1500 ppm
4. NAA 2000 ppm
5. Rootmore
2.2 Prosedur Kerja
Prosedur
kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Diambil dan dikumpulkan 5 perlakuan
tanaman kacang hijau dalam polybag
2. Dipotong pucuk tanaman kacang hijau dengan perlakuan NAA 1500, NAA 2000,
rootmore, dan kontrol dipotong
3. Dibuat pasta NAA 1500, NAA 2000, dan pasta rootmore yang dicampur dengan air
4. Dioleskan pasta sesuai perlakuan pada bagian pucuk
tanaman yang telah dipotong
5. Diambil gambar kegiatan praktikum
menggunakan kamera
6. Setelah 1 minggu tanaman diamati dengan mengukur tinggi tunas lateral
tanaman kacang hijau sesuai perlakuan dan dibandingkan perbedaannya
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Pengamatan
Pada praktikum ini didapatkan hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Data panjang tunas lateral
Perlakuan
|
Sampel
|
rata- rata
|
|
1
|
2
|
||
NAA 1500
|
11,6
|
13,7
|
12,65
|
NAA 2000
|
12,5
|
12,3
|
12,4
|
Rootmore
|
9,9
|
10,6
|
10,25
|
Potong kontrol
|
12
|
8,3
|
10,15
|
kontrol
|
12
|
12,2
|
12,1
|
3.2 Pembahasan
Dominasi apikal merupakan pertumbuhan tunas pucuk yang mendominasi tunas
samping. Dominasi apikal diartikan sebagai persaingan
antara tunas pucuk
dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan. Selama masih ada tunas apikal pertubuhan tunas lateral akan terhambat. Dominasi apikal
disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah dan ditimbun pada
tunas lateral. Hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena
konsentrasinya masih terlalu tinggi (Sutisna, 2010).
Sintesis auksin
terjadi pada bagian tanaman yang sedang mengalami pertumbuhan atau pada bagian meristematis, terutama pada ujung
batang.
Auksin yang disintesisi pada ujung batang ini akan ditransport secara basipetal
ke bagian batang yang lebih bawah. Hal ini menyebabakan terakumulasinya
auksin pada ketiak daun dibawahnya yang berakibat inisiasi pembentukan tunas lateral pada ketiak
daun terhambat atau terjadi dormansi tunas apikal, karena
inisiasi pembentukan tunas lateral mensyaratkan
konsentrasi auksin yang lebih rendah dibandingkan konsentrasi auksin optimal
untuk pertumbuhan memanjang batang (Darmanti, 2009).
Pematahan dominasi apikal akan menyebabkan tunas
lateral yang sebelumnya dorman menjadi aktif sehingga menyebabkan tunas lateral
tumbuh. Pematahan dominasi apikal dapat dilakukan dengan memotong ujung
tanaman. Melalui perlakuan ini, auksin yang terdapat pada daerah apikal akan terdistribusi
kebagian meristem yang lain seperi buku didaerah dekat tunas lateral sehingga
tunas lateral akan mengalami pemanjangan atau tumbuh.
Pada praktikum ini dilakukan pemotongan pucuk kacang hijau. Hal
ini dilakukan untuk menghentikan dominansi apikal sementara, sehingga
dengan begitu akan memengaruhi kondisi hormon tanaman. Menurut (Sutisna, 2010) melalui perlakuan ini,
auksin yang terakumulasi pada daerah pucuk akan terdistribusi ke bagian
meristem yang lain seperti buku di daerah dekat mata tunas. Pucuk kacang hijau yang dipotong akan
menghentikan kerja auksin, sedangkan kacang yang dijadikan sebagai
tanaman kontrol
tetap mengaktifkan kerja auksin. Ketika kacang hijau diolesi dengan NAA dan rootmore
akan mengaktifkan kerja auksin kembali, karena NAA dan
rootmore ialah
pengganti auksin.
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa panjang rata-rata
tunas lateral terpanjang adalah dengan perlakuan NAA 1500 ppm dengan panjang
12,65 cm. panjang rata-rata kacang hijau terendah adalah dengan perlakuan potong kontrol yaitu
10,15. Pada perlakuan NAA 2000 ppm panjang rata-rata adalah 12,4 cm, rootmore
dengan panjang 10,25 cm dan kontrol adalah 12,1 cm. Seharusnya tunas lateral
terpanjang adalah dengan perlakuan kontrol, karena kacang hijau kontrol
tetap mengaktifkan kerja auksin sehingga meristem terus membelah, dan terjadi
pemanjangan sel. Namun, pada praktikum ini justru sebaliknya. Panjang
tunas lateral terpanjang adalah dengan perlakuan NAA 1500. Hal ini juga dapat
disebabkan oleh faktor lingkungan karena tanaman kacang hijau diletakkan pada
tempat terbuka. Faktor lingkungan salah satunya adalah air (air hujan).
Sehingga zat yang diberikan pada ujung tanaman luntur saat terkena hujan.
Pada praktikum dominasi apikal juga dilakukan pada
tanaman pisang. Tanaman pisang ditanaman dengan menggunakan bahan tanam berupa
bonggol yang telah dicongkel batang semunya. Pencongkelan batang semu bertujuan
untuk mematahkan dominasi apikal sehingga pisang yang tumbuh dari bonggol
(batang sebenarnya) lebih banyak karena pada bonggol pisang terdapat titik
tumbuh yang akan tumbuh jika dominasi apikal dipatahkan (Dwijoseputro, 1990).
Presentasi pertumbuhan tanaman pisang tergolong rendah, hanya 22,23% atau dari
9 bonggol yang ditanam hanya 2 bonggol yang tumbuh. Hal ini disebabkan
kurangnya pemeliharaan seperti penyiraman, karena air merupakan kebutuhan
biologis tanaman. Kurangnya pemeliharaan menyebabkan bonggol pisang kering
sehingga tidak dapat tumbuh.
Pematahan dominasi apikal juga dilakukan pada
tanaman perkebunan seperti pada tanaman karet. Apabila tanaman karet sudah
mencapai tinggi 3m maka perlu dilakukan perangsangan untuk mempercepat
pembentukan cabang (Anwar, 2010). Tujuan dari pembentukan cabang
ini adalah agar tanaman karet tidak terlalu tinggi dan mudah patah pada bagian
batangnya. Pembentukan cabang bisa
dilakukan dengan cara penyanggulan
dan pemenggalan batang (topping) .
Pemenggalan (topping) dilakukan dengan cara pemotongan batang pada ketinggian 3m pada bagian batang yang
sudah berwarna coklat. Sedangkan
penyanggulan dilakukan dengan menyatukan daun bagian ujung daun yang sudah tua,
kemudian diikat, atau bisa juga dilaksanakan dengan membungkus daun
ujung dengan menggunakan plastik.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Dominasi apikal merupakan pertumbuhan tunas
pucuk yang menekan pertumbuhan tunas samping, sehingga tunas samping akan
mengalami dorman apabila dominasi apikal tidak dipatahkan.
2. Pematahan dominasi apikal menyebabkan auksin yang terdapat pada daerah apikal akan terdistribusi kebagian
meristem yang lain seperi buku didaerah dekat tunas lateral sehingga tunas
lateral akan mengalami pemanjangan atau tumbuh.
3. Presentasi pertumbuhan tanaman pisang
tergolong rendah, hanya 22,23% atau dari 9 bonggol yang ditanam hanya 2 bonggol
yang tumbuh. Hal ini disebabkan kurangnya pemeliharaan seperti penyiraman.
4. Tanaman Karet harus dilakukan pematahan
dominasi apikal apabila saat tanaman sudah mencapai ketinggian 3m belum
bercabang.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar.
2010. Panduan Budidaya Karet Lengkap.
Penebar Swadaya. Surabaya.
Dahlia.2001. Fisiologi
Tumbuhan Dasar. Malang: UM Press.
Darmanti. 2009.
Struktur Dan Perkembangan Daun AcalyphaindicaL Yang Diperlakukan Dengan Kombinasi
IAA Dan GA Pada Konsentrasi Yang Berbeda.
Dwijoseputro, D. 1990. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Jurnal ( Vol 11 ) No. 1
Hal:40-45
Sutisna. 2010. Teknik
Mempercepat Pertumbuhan Tunas Lateral untuk Perbanyakan Vegetativ Anthurium dengan Aplikasi GA3 dan BA. ( Vol. 15 ) No.2 . hal:
56-59.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar