Sabtu, 20 Desember 2014

Dominansi Apikal Pada Kacang Hijau dan Pisang









DOMINASI APIKAL PADA KACANG HIJAU DAN PISANG
(Tugas Praktikum Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan)





Oleh:
Muhammad Badrun
1304122042


















PROGRAM STUDI D3 PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014















I.  PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang


Pertumbuhan merupakan proses adanya perubahan pada suatu tumbuhan, baik itu perubahan panjang,volume,maupun berat dari tumbuhan tersebut. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Satu diantaranya adalah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada tanaman. Contoh zat pengatur tumbuh itu antara lain adalah auksin. Auksin dibentuk di koleoptil atau ujung batang dan akar yang berfungsi pada pemanjangan tunas, akibat dari dominansi apikal, yaitu terhambatnya pertumbuhan tunas lateral (Dahlia, 2001).

Dominasi apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk (apikal), dengan tunas samping (lateral) dalam hal pertumbuhan. Selama masih ada tunas pucuk pertumbuhan tunas samping akan terhambat sampai batas tertentu. Dominasi apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral. Hal ini akan menghambat  pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. Penghentian dominansi apikal sementara dengan memotong pucuk akan memengaruhi kondisi hormon tanaman. Melalui perlakuan ini, auksin yang terakumulasi pada daerah pucuk akan terdistribusi ke bagian meristem yang lain seperti buku di daerah dekat mata tunas (Sutisna, 2010 ).


1.2  Tujuan

Tujuan dari parktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Mengetahui pengaruh pematahan dominasi apikal dalam pertumbuhan kacang hijau dan pisang,
2.  Mengetahui proses pertumbuhan tunas lateral pada kacang hijau dan pisang,
3.  Mengetahui faktor yang menyebabkan pertumbuhan pisang rendah,
4.  Mengetahui dominasi apikal pada tanaman perkebunan.







II.  METODOLOGI


2.1  Alat dan Bahan



Alat-Alat yang digunakan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Penggaris
2.  Pisau penunas atau cutter
3.  Kamera
4.  Buku
5.  Pena

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Tanaman kacang hijau
2.  Air
3.  NAA 1500 ppm
4.  NAA 2000 ppm
5.  Rootmore

2.2  Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Diambil dan dikumpulkan 5 perlakuan tanaman kacang hijau dalam polybag
2.  Dipotong pucuk tanaman kacang hijau dengan perlakuan NAA 1500, NAA 2000, rootmore, dan kontrol dipotong
3.  Dibuat pasta NAA 1500, NAA 2000, dan pasta rootmore yang dicampur dengan air
4.  Dioleskan pasta sesuai perlakuan pada bagian pucuk tanaman yang telah dipotong
5.  Diambil gambar kegiatan praktikum menggunakan kamera
6.  Setelah 1 minggu tanaman diamati dengan mengukur tinggi tunas lateral tanaman kacang hijau sesuai perlakuan dan dibandingkan perbedaannya






III.  HASIL DAN PEMBAHASAN



3.1  Hasil Pengamatan



Pada praktikum ini didapatkan hasil sebagai berikut. 


Tabel 1.  Data panjang  tunas lateral


Perlakuan
Sampel
rata- rata
1
2
NAA 1500
11,6
13,7
12,65
NAA 2000
12,5
12,3
12,4
Rootmore
9,9
10,6
10,25
Potong kontrol
12
8,3
10,15
kontrol
12
12,2
12,1


3.2  Pembahasan


Dominasi apikal merupakan pertumbuhan tunas pucuk yang mendominasi tunas samping. Dominasi apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan. Selama masih ada tunas apikal  pertubuhan tunas lateral akan terhambat. Dominasi apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah dan ditimbun pada tunas lateral. Hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi (Sutisna, 2010).
Sintesis auksin terjadi pada bagian tanaman yang sedang mengalami pertumbuhan atau pada bagian meristematis, terutama pada ujung batang. Auksin yang disintesisi pada ujung batang ini akan ditransport secara basipetal ke bagian  batang yang lebih bawah. Hal ini menyebabakan terakumulasinya auksin pada ketiak daun dibawahnya yang berakibat inisiasi pembentukan tunas lateral pada ketiak daun terhambat atau terjadi dormansi tunas apikal, karena inisiasi  pembentukan tunas lateral mensyaratkan konsentrasi auksin yang lebih rendah dibandingkan konsentrasi auksin optimal untuk pertumbuhan memanjang batang (Darmanti, 2009).

Pematahan dominasi apikal akan menyebabkan tunas lateral yang sebelumnya dorman menjadi aktif sehingga menyebabkan tunas lateral tumbuh. Pematahan dominasi apikal dapat dilakukan dengan memotong ujung tanaman. Melalui perlakuan ini, auksin yang terdapat pada daerah apikal akan terdistribusi kebagian meristem yang lain seperi buku didaerah dekat tunas lateral sehingga tunas lateral akan mengalami pemanjangan atau tumbuh.

Pada praktikum ini dilakukan pemotongan pucuk kacang hijau. Hal ini dilakukan untuk menghentikan dominansi apikal sementara, sehingga dengan  begitu akan memengaruhi kondisi hormon tanaman. Menurut (Sutisna, 2010) melalui perlakuan ini, auksin yang terakumulasi pada daerah pucuk akan terdistribusi ke bagian meristem yang lain seperti buku di daerah dekat mata tunas. Pucuk kacang hijau yang dipotong akan menghentikan kerja auksin, sedangkan kacang  yang dijadikan sebagai tanaman kontrol tetap mengaktifkan kerja auksin. Ketika kacang hijau diolesi dengan NAA dan rootmore akan mengaktifkan kerja auksin kembali, karena NAA dan rootmore ialah pengganti auksin.

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa panjang rata-rata tunas lateral terpanjang adalah dengan perlakuan NAA 1500 ppm dengan panjang 12,65 cm. panjang rata-rata kacang hijau terendah adalah  dengan perlakuan potong kontrol yaitu 10,15. Pada perlakuan NAA 2000 ppm panjang rata-rata adalah 12,4 cm, rootmore dengan panjang 10,25 cm dan kontrol adalah 12,1 cm. Seharusnya tunas lateral terpanjang adalah dengan perlakuan kontrol, karena kacang hijau kontrol tetap mengaktifkan kerja auksin sehingga meristem terus membelah, dan terjadi pemanjangan sel. Namun, pada praktikum ini justru sebaliknya. Panjang tunas lateral terpanjang adalah dengan perlakuan NAA 1500. Hal ini juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan karena tanaman kacang hijau diletakkan pada tempat terbuka. Faktor lingkungan salah satunya adalah air (air hujan). Sehingga zat yang diberikan pada ujung tanaman luntur saat terkena hujan.

Pada praktikum dominasi apikal juga dilakukan pada tanaman pisang. Tanaman pisang ditanaman dengan menggunakan bahan tanam berupa bonggol yang telah dicongkel batang semunya. Pencongkelan batang semu bertujuan untuk mematahkan dominasi apikal sehingga pisang yang tumbuh dari bonggol (batang sebenarnya) lebih banyak karena pada bonggol pisang terdapat titik tumbuh yang akan tumbuh jika dominasi apikal dipatahkan (Dwijoseputro, 1990). Presentasi pertumbuhan tanaman pisang tergolong rendah, hanya 22,23% atau dari 9 bonggol yang ditanam hanya 2 bonggol yang tumbuh. Hal ini disebabkan kurangnya pemeliharaan seperti penyiraman, karena air merupakan kebutuhan biologis tanaman. Kurangnya pemeliharaan menyebabkan bonggol pisang kering sehingga tidak dapat tumbuh.

Pematahan dominasi apikal juga dilakukan pada tanaman perkebunan seperti pada tanaman karet. Apabila tanaman karet sudah mencapai tinggi 3m maka perlu dilakukan perangsangan untuk mempercepat pembentukan cabang (Anwar, 2010). Tujuan dari pembentukan cabang ini adalah agar tanaman karet tidak terlalu tinggi dan mudah patah pada bagian batangnya. Pembentukan cabang bisa dilakukan dengan cara penyanggulan dan pemenggalan batang (topping) .

Pemenggalan (topping) dilakukan dengan cara pemotongan batang pada ketinggian 3m pada bagian batang yang sudah berwarna coklat. Sedangkan penyanggulan dilakukan dengan menyatukan daun bagian ujung daun yang sudah tua, kemudian diikat, atau bisa juga dilaksanakan dengan membungkus daun ujung dengan menggunakan plastik.





IV.  KESIMPULAN



Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Dominasi apikal merupakan pertumbuhan tunas pucuk yang menekan pertumbuhan tunas samping, sehingga tunas samping akan mengalami dorman apabila dominasi apikal tidak dipatahkan.
2.  Pematahan dominasi apikal menyebabkan auksin yang terdapat pada daerah apikal akan terdistribusi kebagian meristem yang lain seperi buku didaerah dekat tunas lateral sehingga tunas lateral akan mengalami pemanjangan atau tumbuh.
3.  Presentasi pertumbuhan tanaman pisang tergolong rendah, hanya 22,23% atau dari 9 bonggol yang ditanam hanya 2 bonggol yang tumbuh. Hal ini disebabkan kurangnya pemeliharaan seperti penyiraman.
4.  Tanaman Karet harus dilakukan pematahan dominasi apikal apabila saat tanaman sudah mencapai ketinggian 3m belum bercabang.





DAFTAR PUSTAKA


Anwar. 2010. Panduan Budidaya Karet Lengkap. Penebar Swadaya. Surabaya.

Dahlia.2001. Fisiologi Tumbuhan Dasar. Malang: UM Press.

Darmanti. 2009. Struktur Dan Perkembangan Daun AcalyphaindicaL Yang Diperlakukan Dengan Kombinasi IAA Dan GA Pada Konsentrasi Yang Berbeda.

Dwijoseputro, D. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Jurnal ( Vol 11 ) No. 1 Hal:40-45

Sutisna. 2010. Teknik Mempercepat Pertumbuhan Tunas Lateral untuk Perbanyakan Vegetativ Anthurium dengan Aplikasi GA3 dan BA. ( Vol. 15 )  No.2 . hal: 56-59.




































 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar