LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PEMBIBITAN KARET
(Hevea Brasiliensis)
(AGT 412206)
Oleh
Muhammad Badrun
1304122045
PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan
tanaman tahunan yang memiliki siklus hidup selama kurang lebih 25 tahun. Hal ini berarti bahwa pemilihan bahan tanam/bibit tanaman dilakukan sekali
dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan secara cermat,
karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan berdampak negatif terhadap
produksi yang akan dihasilkan nantinya. Umumnya tanaman tahunan merupakan
investasi jangka panjang yang hasilnya akan dinikmati beberapa tahun kemudian.
Bibit karet yang baik adalah bibit yang unggul dan
bermutu. Bibit karet yang dianjurkan adalah bibit karet yang berasal dari klon
unggul sesuai dengan potensinya, yang diperbanyak secara okulasi. Bahan tanam bermutu
baik ialah bahan tanam yang dipelihara dengan baik sehingga pertumbuhan cepat
dan seragam, Sehingga dapat mempersingkat masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
Urutan pada setiap tahap kegiatan dalam pengadaan bahan tanam adalah cara untuk
mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik. Pekerjaan sejak dari pemilihan
biji untuk batang bawah, pengecambahan, pembibitan batang bawah, pelaksanaan
okulasi, pemilihan entres sampai pembibitan tanaman di polibeg harus mengikuti
norma-norma yang telah ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut saling terkait,
sehingga saling mempengaruhi satu sama lain. Kesalahan dalam pelaksanaan satu
jenis kegiatan dapat menghasilkan bahan tanam yang tidak bermutu baik (Nugroho, 2009).
1.2 Tujuan
Tujuan dari
praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui teknik pembibitan karet yang baik
dan benar pada Pembibitan Langsung Polibag (PLP)
2. Mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam
pemeliharaan kebun entres dan batang bawah tanaman karet
3. Mengetahui teknik
okulasi yang baik dan benar pada tanaman karet
4. Terampil dalam
melakukan okulasi karet.
II.
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi
cangkul, sabit, gembor, koret, pisau okulasi, cutter, ayakan 0,5 cm, gunting stek,kain lap, plastik, dan polibag.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi bibit karet
batang bawah, entres, benih karet, air, dan pupuk.
3.2 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang digunakan
dalam praktikum adalah sebagai berikut.
3.2.1
Pemeliharaan
Pemeliharaan dalam praktikum ini meliputi
penyiangan gulma, pemangkasan, dan pemupukan.
a. Penyiangan Gulma
Dilakukan penyiangan gulma pada
kebun entres dan batang bawah digunakan cangkul, koret dan sabit untuk
membersihkan lahan dari gulma. Penyiangan bertujuan agar tidak terjadi
kompetisi dalam mendapatkan nutrisi antara gulma dengan tanaman karet.
b. Pemangkasan
Dilakukan pemangkasan pada kebun entres dengan
membuang tunas-tunas lateral pada batang primer menggunakan cutter atau gunting
stek agar kayu entres yang dihasilkan kelak akan panjang dan banyak mata prima
yang dapat digunakan sebagai calon batang atas.
c. Pemupukan
Dilakukan pemupukan pada kebun entres dan
batang bawah karet dengan dosis 20 gram per tanaman entres dan 10 gram per
tanaman batang bawah. Sebelum dipupuk, dibuat rorak melingkar seukuran tajuk
tanaman. Pupuk dimasukkan dalam rorak dan ditimbun kembali karena unsur
nitrogen mudah menguap. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk mutiara dengan
kandungan NPK 15:15:15. Setelah dipupuk, kemudian tanaman disiram dengan air
agar pupuk larut dan dapat diserap oleh tanaman.
3.2.2 Pembibitan Langsung Polibag
1.
Dilakukan seleksi benih dengan cara dilentingkan biji dan dilihat warna
kulit yang mengkilat,
2. Dilakukan pengayakan pada tanah terlebih
dahulu sebelum dimasukkan kedalam polibag. Digunakan tanah top soil karena
tanah bagiann ini sangat subur,
3. Polybag yang terlalu besar dimodifikasi
menjadi ukuran 29 cm x 42 cm
4. Dimasukkan tanah yang telah diayak kedalam
polybag, usahakan polibag dapat tegak dan tidak patah pinggang.
5. Ditanam benih karet pada polybag sebanyak 2
benih untuk 1 polybag kemudian disiram agar benih dapat berimbibisi.
3.2.3 Okulasi
1. Disiapkan alat-alat yang digunakan terlebih
dahulu seperti pisau okulasi, kain lap dan plastik.
2. Dibuat dua irisan secara vertikal pada batang
bawah sebagai jendela okulasi dengan panjang sekitar 5 cm dan lebar sepertiga dari
lilit batang dengan ketinggian 7 - 10 cm dari permukaan tanah.
3. Diambil mata tunas dari batang entres sebagai
perisai entres dengan membuat irisan secara vertikal, dan dibuat lebih kecil
dari ukuran jendela okulasi
4. Dibuka jendela okulasi kemudian perisai
entres dimasukkan kedalam jendela dan ikat dengan plastik dengan kuat sampai
air tidak dapat masuk.
5. Setelah 2 minggu plastik dibuka dan dilukai
sedikit. Jika masih berwarna hijau maka okulasi berhasil dan jika berwarna coklat
maka okulasi gagal.
III. PEMBAHASAN
3.1 Pemeliharaan kebun Entres dan Main Nursery
Pemeliharaan
di pembibitan karet batang bawah dan kebun entres meliputi penyiangan,
pemupukan, dan pemangkasan. Pembibitan harus bebas dari rerumputan dan
vegetasi lainnya agar tidak terjadi persaingan atau kompetisi antara tanaman
dengan gulma dalam hal air, hara, ruang, dan cahaya matahari. Rotasi penyiangan
dilakukan 3 atau 4 minggu sekali tergantung kepada kecepatan pertumbuhan gulma.
Penggarukan gulma dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai akar dan batang
karet yang masih muda.
Kemurnian klon di
kebun entres perlu
dipertahankan. Ada kemungkinan tumbuh tunas liar dari batang bawah pada awal
tanam atau tercampurnya bahan tanam yang digunakan untuk kebun entres dengan klon lain.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pemurnian klon. Pemurnian klon yang pertama
adalah pada saat tanaman memiliki 4-5 payung daun (umur 8-10 bulan) dan
selanjutnya setiap dua tahun (Suharyanto, 1989).
Untuk
memacu pertumbuhan tanaman karet pada batang bawah dan kebun entres, maka perlu
dilakukan pemupukan untuk menambah nutrisi terhadap tanaman. Pemupukan
merupakan penambahan unsur hara yang dibutukan oleh tanaman dan untuk menambah
kesuburan tanah (Russel, 2004). Pada kebun entres dan batang bawah pupuk yang
ditambahkan ialah pupuk mutiara dengan kandungan NPK 15:15:15 dengan dosis 20
gram. Sedangkan untuk batang bawah, pupuk dosis pupuk yang ditambahkan adalah
sebanyak 10 gram. Cara pengaplikasian pupuk dapat dilakukan dengan cara
membentuk poket atau rorak melingkar dengan panjang dari batang ialah seukuran
tajuk tanaman. Jika pemberian pupuk terlalu dekat dengan batang maka justru
pertumbuhan tanaman akan terhambat. Pupuk akan diserap tanaman melalui ujung
akar (rambut akar) sehingga jarak pupuk yang diberikan harus tepat.
Pupuk
yang telah dimasukkan kedalam tanah harus ditutup kembali dengan tanah, karena
unsur nitrogen adalah gas sehingga mudah menguap. Penambahan air atau
penyiraman perlu dilakukan setelah pemupukan, agar pupuk yang diberikan dapat
larut dan dapat diserap oleh tanaman. Jika setelah pemupukan tidak ditambahkan
air dan kondisi tanah kering maka akan berdampak negatif. Pupuk akan menyerap
air dari tanaman karena adanya perbedaan gradien konsentrasi antara pupuk
dengan tanaman. Akibatnya tanaman justru akan mati atau keracunan (Sutedjo,
2003).
2.2 Pembibitan Langsung Polibag (PLP)
Pembibitan
Langsung Polibag ( PLP ) adalah pembibitan untuk mempersiapkan
batang bawah yang dilakukan
langsung pada polibag. Pada awal
penyemaian benih langsung ditanam ke polibag.
Pembibitan seperti ini membutuhkan biaya yang relatif cukup mahal,
karena begitu banyak benih yang harus disemai dan begitu banyak polibag yang
harus disediakan. Pada praktikum kali
ini melakukan pembibitan langsung polibag, namun polibag yang di beli tidak
sesuai dengan yang diinginkan, sehingga diperlukan pemodifikasian polibag. Namun biasanya pada perusahaan-perusahaan besar, polibag dengan ukuran 29 x 42 cm sudah dipesan dari
pabrik pembuat polibag, sehingga tidak diperlukan pemodifikasian lagi. PLP ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu
dengan menggunakan PLP maka tingkat keberhasilan tanaman dapat tumbuh lebih
tinggi, karena tidak memerlukan transplanting ke mainnursery. Dan pada saat melakukan okulasi kemudian
berhasil, maka tidak memerlukan pembongkaran yang sulit.
2.3 Okulasi Tanaman Karet
Okulasi
merupakan perbanyakan secara vegetatif dengan cara menempelkan mata tunas pada
batang bawah yang keduanya bersifat unggul. Mata tunas diambil dari pohon induk
yang disebut entres. Syarat pohon induk yang baik adalah memiliki produksi yang
tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, dan responsif terhadap
lingkungan. Sedangkan syarat untuk batang bawah ialah memiliki perakaran yang
kuat dan tahan terhadap serangan hama maupun penyakit.
Batang
bawah harus merupakan induk yang diperoleh dari pembiakan secara generatif yang
masih muda. Biji yang digunakan hendaknya berupa biji karet yang salah satu
induknya diketahui (propeligitim).
Pembibitan batang bawah menggunakan biji karena, biji akan menghasilkan akar
tunjang yang kuat sehingga tanaman tidak mudah roboh. Klon-klon yang dianjurkan
sebagai batang bawah adalah klon GT 1, LCB 1320, dan AVROS 2037. Untuk dapat
diokulasi garis tengah batang bawah harus sudah mencapai ukuran 2,5 cm (Lukman,
1991).
Syarat
memperoleh bibit okulasi yang baik adalah sebagai berikut.
1. Kedua lapisan kambium yang halus pada batang
bawah dan perisai harus menempel, tidak boleh terkontaminasi oleh kotoran,
tidak bergeser, dan tidak terkena sinar matahari terik.
2. Melakukan okulasi pada waktu yang telah
ditetapkan yaitu pada pagi hari antara pukul 07.00 – 10.30 untuk menghindari
sinar matahari.
3. tidak mengokulasi batang bawah yang basah
4. alat dan bahan yang digunakan harus steril
5. perlu ketelitian dan keterampilan dalam
melaksanakan okulasi.
Teknik
mengokulasi tanaman karet ada dua macam, yaitu okulasi hijau dan okulasi
coklat. Batang bawah untuk okulasi hijau berumur 5 – 8 bulan dengan diameter
1,5 cm. Sedangkan untuk okulasi coklat, batang bawah yang digunakan berumur 9 –
18 bulan dengan diameter batang lebih dari 1,5 cm. Tanaman yang akan harus
memiliki pucuk daun yang dorman. Daun yang muda atau flush menyebabkan batang bawah akan sulit dibuat jendela, karena
akan banyak mengeluarkan getah sehingga lengket.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan
yang didapat pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Pembibitan Langsung Polibag ( PLP ) adalah pembibitan untuk
mempersiapkan batang bawah yang
dilakukan langsung pada polibag. Pada
awal penyemaian benih langsung ditanam ke polibag.
2. Pemeliharaan
di pembibitan karet batang bawah dan kebun entres meliputi penyiangan,
pemupukan, dan pemangkasan.
3. Okulasi merupakan perbanyakan secara
vegetatif dengan cara menempelkan mata tunas pada batang bawah yang keduanya
bersifat unggul.
4. Teknik mengokulasi tanaman karet ada dua
macam, yaitu okulasi hijau dan okulasi coklat. Batang bawah untuk okulasi hijau
berumur 5 – 8 bulan dengan diameter 1,5 cm. Sedangkan untuk okulasi coklat,
batang bawah yang digunakan berumur 9 – 18 bulan dengan diameter batang lebih
dari 1,5 cm.
DAFTAR
PUSTAKA
Nugroho. 2009. Budidaya dan
Pengolahan Hasil Tanaman Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Russel.
2004. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja
Grafindo Pratama. Jakarta.
Suharyanto. 1989. Klon-Klon Anjuran Karet Dalam Perkebunan Rakyat. Kanisius.
Yogyakarta.
Sutedjo.
2003. Pupuk dan Pemupukan. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar