Sabtu, 20 Desember 2014

Pembibitan karet








LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PEMBIBITAN KARET
(Hevea Brasiliensis)
(AGT 412206)



Oleh

Muhammad Badrun
1304122045










PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014









I.  PENDAHULUAN




1.1  Latar Belakang

Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan tanaman tahunan yang memiliki siklus hidup selama kurang lebih 25 tahun. Hal ini berarti bahwa pemilihan bahan tanam/bibit tanaman dilakukan sekali dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan secara cermat, karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan berdampak negatif terhadap produksi yang akan dihasilkan nantinya. Umumnya tanaman tahunan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya akan dinikmati beberapa tahun kemudian.

Bibit karet yang baik adalah bibit yang unggul dan bermutu. Bibit karet yang dianjurkan adalah bibit karet yang berasal dari klon unggul sesuai dengan potensinya, yang diperbanyak secara okulasi. Bahan tanam bermutu baik ialah bahan tanam yang dipelihara dengan baik sehingga pertumbuhan cepat dan seragam, Sehingga dapat mempersingkat masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

Urutan pada setiap tahap kegiatan dalam pengadaan bahan tanam adalah cara untuk mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik. Pekerjaan sejak dari pemilihan biji untuk batang bawah, pengecambahan, pembibitan batang bawah, pelaksanaan okulasi, pemilihan entres sampai pembibitan tanaman di polibeg harus mengikuti norma-norma yang telah ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut saling terkait, sehingga saling mempengaruhi satu sama lain. Kesalahan dalam pelaksanaan satu jenis kegiatan dapat menghasilkan bahan tanam yang tidak bermutu baik (Nugroho, 2009).
1.2  Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Mengetahui teknik pembibitan karet yang baik dan benar pada Pembibitan Langsung Polibag (PLP)
2.  Mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam pemeliharaan kebun entres dan batang bawah tanaman karet
3.  Mengetahui teknik okulasi yang baik dan benar pada tanaman karet
4.  Terampil dalam melakukan okulasi karet.








II.  METODOLOGI
  




2.1  Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi cangkul, sabit, gembor, koret, pisau okulasi, cutter, ayakan 0,5 cm, gunting stek,kain lap, plastik, dan polibag. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi bibit karet batang bawah, entres, benih karet, air, dan pupuk.

3.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut.

3.2.1  Pemeliharaan

Pemeliharaan dalam praktikum ini meliputi penyiangan gulma, pemangkasan, dan pemupukan.

a.  Penyiangan Gulma
Dilakukan penyiangan gulma pada kebun entres dan batang bawah digunakan cangkul, koret dan sabit untuk membersihkan lahan dari gulma. Penyiangan bertujuan agar tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan nutrisi antara gulma dengan tanaman karet.

b.  Pemangkasan
Dilakukan pemangkasan pada kebun entres dengan membuang tunas-tunas lateral pada batang primer menggunakan cutter atau gunting stek agar kayu entres yang dihasilkan kelak akan panjang dan banyak mata prima yang dapat digunakan sebagai calon batang atas.

c.  Pemupukan
Dilakukan pemupukan pada kebun entres dan batang bawah karet dengan dosis 20 gram per tanaman entres dan 10 gram per tanaman batang bawah. Sebelum dipupuk, dibuat rorak melingkar seukuran tajuk tanaman. Pupuk dimasukkan dalam rorak dan ditimbun kembali karena unsur nitrogen mudah menguap. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk mutiara dengan kandungan NPK 15:15:15. Setelah dipupuk, kemudian tanaman disiram dengan air agar pupuk larut dan dapat diserap oleh tanaman.

3.2.2  Pembibitan Langsung Polibag

1.  Dilakukan seleksi benih dengan cara dilentingkan biji dan dilihat warna
kulit yang mengkilat,
2.  Dilakukan pengayakan pada tanah terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam polibag. Digunakan tanah top soil karena tanah bagiann ini sangat subur,
3.  Polybag yang terlalu besar dimodifikasi menjadi ukuran 29 cm x 42 cm
4.  Dimasukkan tanah yang telah diayak kedalam polybag, usahakan polibag dapat tegak dan tidak patah pinggang.
5.  Ditanam benih karet pada polybag sebanyak 2 benih untuk 1 polybag kemudian disiram agar benih dapat berimbibisi.

3.2.3  Okulasi

1.  Disiapkan alat-alat yang digunakan terlebih dahulu seperti pisau okulasi, kain lap dan plastik.
2.  Dibuat dua irisan secara vertikal pada batang bawah sebagai jendela okulasi dengan panjang sekitar 5 cm dan lebar sepertiga dari lilit batang dengan ketinggian 7 - 10 cm dari permukaan tanah.
3.  Diambil mata tunas dari batang entres sebagai perisai entres dengan membuat irisan secara vertikal, dan dibuat lebih kecil dari ukuran jendela okulasi
4.  Dibuka jendela okulasi kemudian perisai entres dimasukkan kedalam jendela dan ikat dengan plastik dengan kuat sampai air tidak dapat masuk.
5.  Setelah 2 minggu plastik dibuka dan dilukai sedikit. Jika masih berwarna hijau maka okulasi berhasil dan jika berwarna coklat maka okulasi gagal.















III.  PEMBAHASAN




3.1  Pemeliharaan kebun Entres dan Main Nursery

Pemeliharaan di pembibitan karet batang bawah dan kebun entres meliputi penyiangan, pemupukan, dan pemangkasan. Pembibitan harus bebas dari rerumputan dan vegetasi lainnya agar tidak terjadi persaingan atau kompetisi antara tanaman dengan gulma dalam hal air, hara, ruang, dan cahaya matahari. Rotasi penyiangan dilakukan 3 atau 4 minggu sekali tergantung kepada kecepatan pertumbuhan gulma. Penggarukan gulma dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai akar dan batang karet yang masih muda.

Kemurnian klon di kebun entres  perlu dipertahankan. Ada kemungkinan tumbuh tunas liar dari batang bawah pada awal tanam atau tercampurnya bahan tanam yang digunakan untuk kebun entres  dengan klon lain. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemurnian klon. Pemurnian klon yang pertama adalah pada saat tanaman memiliki 4-5 payung daun (umur 8-10 bulan) dan selanjutnya setiap dua tahun (Suharyanto, 1989).

Untuk memacu pertumbuhan tanaman karet pada batang bawah dan kebun entres, maka perlu dilakukan pemupukan untuk menambah nutrisi terhadap tanaman. Pemupukan merupakan penambahan unsur hara yang dibutukan oleh tanaman dan untuk menambah kesuburan tanah (Russel, 2004). Pada kebun entres dan batang bawah pupuk yang ditambahkan ialah pupuk mutiara dengan kandungan NPK 15:15:15 dengan dosis 20 gram. Sedangkan untuk batang bawah, pupuk dosis pupuk yang ditambahkan adalah sebanyak 10 gram. Cara pengaplikasian pupuk dapat dilakukan dengan cara membentuk poket atau rorak melingkar dengan panjang dari batang ialah seukuran tajuk tanaman. Jika pemberian pupuk terlalu dekat dengan batang maka justru pertumbuhan tanaman akan terhambat. Pupuk akan diserap tanaman melalui ujung akar (rambut akar) sehingga jarak pupuk yang diberikan harus tepat.

Pupuk yang telah dimasukkan kedalam tanah harus ditutup kembali dengan tanah, karena unsur nitrogen adalah gas sehingga mudah menguap. Penambahan air atau penyiraman perlu dilakukan setelah pemupukan, agar pupuk yang diberikan dapat larut dan dapat diserap oleh tanaman. Jika setelah pemupukan tidak ditambahkan air dan kondisi tanah kering maka akan berdampak negatif. Pupuk akan menyerap air dari tanaman karena adanya perbedaan gradien konsentrasi antara pupuk dengan tanaman. Akibatnya tanaman justru akan mati atau keracunan (Sutedjo, 2003).

2.2  Pembibitan Langsung Polibag (PLP)

Pembibitan Langsung Polibag ( PLP ) adalah pembibitan untuk mempersiapkan batang bawah yang dilakukan langsung pada polibag.  Pada awal penyemaian benih langsung ditanam ke polibag.  Pembibitan seperti ini membutuhkan biaya yang relatif cukup mahal, karena begitu banyak benih yang harus disemai dan begitu banyak polibag yang harus disediakan.  Pada praktikum kali ini melakukan pembibitan langsung polibag, namun polibag yang di beli tidak sesuai dengan yang diinginkan, sehingga diperlukan pemodifikasian polibag.  Namun biasanya pada perusahaan-perusahaan besar, polibag dengan ukuran 29 x 42 cm sudah dipesan dari pabrik pembuat polibag, sehingga tidak diperlukan pemodifikasian lagi.  PLP ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu dengan menggunakan PLP maka tingkat keberhasilan tanaman dapat tumbuh lebih tinggi, karena tidak memerlukan transplanting ke mainnursery.  Dan pada saat melakukan okulasi kemudian berhasil, maka tidak memerlukan pembongkaran yang sulit.




2.3  Okulasi Tanaman Karet

Okulasi merupakan perbanyakan secara vegetatif dengan cara menempelkan mata tunas pada batang bawah yang keduanya bersifat unggul. Mata tunas diambil dari pohon induk yang disebut entres. Syarat pohon induk yang baik adalah memiliki produksi yang tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, dan responsif terhadap lingkungan. Sedangkan syarat untuk batang bawah ialah memiliki perakaran yang kuat dan tahan terhadap serangan hama maupun penyakit.

Batang bawah harus merupakan induk yang diperoleh dari pembiakan secara generatif yang masih muda. Biji yang digunakan hendaknya berupa biji karet yang salah satu induknya diketahui (propeligitim). Pembibitan batang bawah menggunakan biji karena, biji akan menghasilkan akar tunjang yang kuat sehingga tanaman tidak mudah roboh. Klon-klon yang dianjurkan sebagai batang bawah adalah klon GT 1, LCB 1320, dan AVROS 2037. Untuk dapat diokulasi garis tengah batang bawah harus sudah mencapai ukuran 2,5 cm (Lukman, 1991).
Syarat memperoleh bibit okulasi yang baik adalah sebagai berikut.
1.  Kedua lapisan kambium yang halus pada batang bawah dan perisai harus menempel, tidak boleh terkontaminasi oleh kotoran, tidak bergeser, dan tidak terkena sinar matahari terik.
2.  Melakukan okulasi pada waktu yang telah ditetapkan yaitu pada pagi hari antara pukul 07.00 – 10.30 untuk menghindari sinar matahari.
3.  tidak mengokulasi batang bawah yang basah
4.  alat dan bahan yang digunakan harus steril
5.  perlu ketelitian dan keterampilan dalam melaksanakan okulasi.

Teknik mengokulasi tanaman karet ada dua macam, yaitu okulasi hijau dan okulasi coklat. Batang bawah untuk okulasi hijau berumur 5 – 8 bulan dengan diameter 1,5 cm. Sedangkan untuk okulasi coklat, batang bawah yang digunakan berumur 9 – 18 bulan dengan diameter batang lebih dari 1,5 cm. Tanaman yang akan harus memiliki pucuk daun yang dorman. Daun yang muda atau flush menyebabkan batang bawah akan sulit dibuat jendela, karena akan banyak mengeluarkan getah sehingga lengket.

































IV.  KESIMPULAN




Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.  Pembibitan Langsung Polibag ( PLP ) adalah pembibitan untuk mempersiapkan batang bawah yang dilakukan langsung pada polibag.  Pada awal penyemaian benih langsung ditanam ke polibag.
2.  Pemeliharaan di pembibitan karet batang bawah dan kebun entres meliputi penyiangan, pemupukan, dan pemangkasan.
3.  Okulasi merupakan perbanyakan secara vegetatif dengan cara menempelkan mata tunas pada batang bawah yang keduanya bersifat unggul.
4.  Teknik mengokulasi tanaman karet ada dua macam, yaitu okulasi hijau dan okulasi coklat. Batang bawah untuk okulasi hijau berumur 5 – 8 bulan dengan diameter 1,5 cm. Sedangkan untuk okulasi coklat, batang bawah yang digunakan berumur 9 – 18 bulan dengan diameter batang lebih dari 1,5 cm.




















DAFTAR PUSTAKA




Nugroho. 2009. Budidaya dan Pengolahan Hasil Tanaman Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Russel. 2004. Pupuk dan Pemupukan. PT. Raja Grafindo Pratama. Jakarta.

Suharyanto. 1989. Klon-Klon Anjuran Karet Dalam Perkebunan Rakyat. Kanisius. Yogyakarta.

Sutedjo. 2003. Pupuk dan Pemupukan. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar