Jumat, 05 Desember 2014

Analisis Usaha Tani Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Way Kanan







 ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN WAY KANAN
(Tugas Mata Kuliah Analisis Usaha Peerkebunan)



Oleh:

M. Ali Furqon
1304122037
Muhammad Badrun
1304122042
Muslimin
1304122043
Tiyas Septiyadi
1304122066





 Logo Unila Hitam Putih






PROGRAM STUDI DIII PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014









KATA PENGANTAR



Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Laporan Analisis Usaha Tani Kelapaa sawit di Kabupaten Way kanan ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas Analisis Usaha Perkebunan, Serta menambah wawasan dan pengetahuan bahwa suatu usaha tani yang dikelola oleh petani sesuai dan layak diusahakan atau tidak.

Kepada semua pihak, baik yang langsung maupun tidak langsung , yang ikut membantu terwujudnya laporan ini, saya ucapkan terima kasih. Saya mengucapkan terima kasih kepada: Firdasari, M.Si, Ani Suryani, M.Si dan Dr.Ir.F.E Prasmatiwi (selaku dosen pembimbing) yang telah membimbing dan memberikan arahan, serta Tri Yunita Sari dan Marcela Yunati (selaku asisten dosen) yang juga telah membimbing dan memberikan arahan, serta teman-teman yang telah memberikan dorongan dan semangat sampai terwujudnya laporan ini.



Bandar Lampun, 21 Juni 2014
Penyusun




I.  PENDAHULUAN



1.1  Latar belakang

Kelapa sawit merupakan komiditi utama perkebunan di Indonesia. Yang memiliki peranan dan arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Komoditas kelapa sawit mempunyai peran yang cukup strategis dalam perekonomian Indonesia.Pertama, minyak sawit merupakan bahan utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontinu ikut menjaga kestabilan harga minyak goreng. Kedua, sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas,komoditas ini memiliki prospek yang baik sebagai sumber perolehan devisa maupun pajak. Ketiga, dalam proses produksi  maupun pengolahan juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan  sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir.

Potensi perkebunan di Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan, areal perkebunan Kabupaten Way Kanan mencakup areal seluas 145.989,30 Ha, yang didominasi oleh tanaman kelapa sawit Perusahaan 28.146,80 Ha dan perkebunan rakyat seluas dari TBM:11,150 ha TM:3,638 ha TTM:775 ha dengan jumlah produksi hasil perkebunan rakyat 30.505 Ton/thn. Tanaman perkebunan yang berada di Kabupaten Way Kanan yang lain adalah: karet, kopi, lada, kakao, dan cengkeh (Disbun, 2012).

1.2  Tujuan

Tujuan dilakukan pengamatan ini adalah sebagai berikut
1.  Mengetahui pendapatan usaha tani kelapa sawit,
2.  Mengetahui Keuntungan usaha tani kelapa sawit.





II.  TINJAUN PUSTAKA


2.1  Budidaya kelapa sawit

Kelapa sawit merupakan tanaman multiguna. Tanaman ini mulai banyak
menggantikan posisi penanaman komoditas perkebunan lain, yaitu tanaman karet.
Tanaman sawit kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia (Suwarto, 2010).

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Nigeria, Afrika Barat.
Kelapa sawit merupakanan tanaman monokotil. Tanaman ini berakar serabut yang
berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah, respirasi tanaman dan sebagai
penyangga berdirinya tanaman. Batangnya tidak mempunyai kambium dan
umumnya tidak bercabang. batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan
diameter 20-75 cm. pada tanaman muda, batang tidak terlihat karena tertutup oleh
pelepah daun.

Daun kelapa sawit mirip daun kelapa, yaitu membentuk susunan daun majemuk,
bersirip genap, dan bertulang daun sejajar. Daun-daun ini membentuk pelepah
yang panjangnya mencapai lebih dari 7,5-9m. Kelapa sawit merupakan tanaman
berumah satu (monoecious), artinya bunga jantan dan betina terdapat dalam satu
tanaman serta masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga
jantan dihasilkan dengan siklus yang bergantian dengan bunga betina sehingga
pembungaan secara bersamaan jarang terjadi. Buah (fructus) pada kelapa sawit
dihasilkan setelah tanaman berumur 3,5 tahun dan diperlukan waktu 5-6 bulan
dari penyerbukan hingga buah matang dan siap dipanen (Fauzi, 2002).
Luasnya daerah-daerah Indonesia yang berpotensi untuk diusahakan menjadi areal
perkebunan mendukung pertumbuhan bisnis tanaman kelapa sawit di Indonesia.
Selain itu, faktor lain yang mendukung pertumbuhan tanaman perkebunan adalah
faktor agroklimat. Dari sisi agroklimat, tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada
ketinggian 100-1.700 m dpl, curah hujan 2.000-3.000 mm/tahun, suhu 22-32 °C
dengan kelembapan 80-90 %, serta pH tanah 4,0-6,0 (Anonimous, 2008).
Dilihat dari pengusahaannya, perkebunan kelapa sawit Indonesia dibagi menjadi
tiga, yaitu Perkebunan Rakyat, Perkebunan Besar Negara, dan Perkebunan Besar
Swasta. Perkebunan rakyat adalah perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh
rakyat memilki luas lahan yang terbatas, yaitu 1-10 ha. Dengan luas lahan
tersebut, tentunya menghasilkan produksi TBS yang terbatas pula sehingga
penjualannya sulit dilakukan apabila ingin menjualnya langsung ke prosesor /
industri pengolah (Fauzi, 2012).

2.2  Teori usaha tani

Sebuah usahatani adalah sebagian dari permukaan bumi di mana seorang
petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha lainnya bercocok tanam atau
memelihara ternak. Usahatani pada dasarnya adalah sebidang tanah
(A.T. Mosher, 1987).
Usahatani adalah organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi pertanian. Petani sebagai pengelola usahatani termasuk pembiayaannya adalah seseorang yang membutuhkan dan berperan dalam perencanaan bisnis yang meliputi penyediaan dan pengalokasian dana, menciptakan dana melalui pengendalian sumber-sumber serta mengelolanya dalam kegiatan produksi seefektif mungkin. Dengan demikian petani tidak boleh salah langkah dalam tindakannya untuk mencapai tujuan produksi tersebut (Hernanto,1988).

Usahatani dapat dikatakan berhasil minimal harus dapat menghasilkan cukup pendapatan untuk membayar biaya semua alat yang diperlukan, bunga modal, upah tenaga kerja petani dan keluarganya yang digunakan untuk usahatani secara layak dan dapat mempertahankan keadaan usahatani sedikitnya berada dalam keadaan semula (Hadisaputro, 1973).

Ketika membicarakan laba, kebanyakan orang mengaitkannya dengan uang sisa dari pendapatan, setelah dikurangi semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan itu. Laba besarnya mengacu pada surplus atau kelebihan pendapatan atas biaya (keuntungan netto dari suatu proses produksi). Menurut kami, laba adalah perbedaan antara pendapatan kotor (Gross Income) dan biaya operasi (Operating Cost). Biaya operasi adalah jumlah semua biaya tidak tetap ditambah biaya tetap untuk operasi (bukan biaya tetap total). Dengan kata lain, laba adalah marjin kotor total kurang biaya tetap untuk operasi (Makeham, 1999).

Efisiensi usahatani memberikan batas layak dan tidaknya suatu usahatani dilaksanakan. Perhitungan efisiensinya menggunakan biaya dalam usahatani dianalisis melalui imbangan antara penerimaan total dengan biaya total yang disebut Return and Cost Ratio (R/C ratio). Pada metode ini mengandung arti bahwa tingkat efisiensi usahatani diukur atas dasar keuntungan (A.T. Mosher, 1987).

Setiap petani memperhitungkan biaya dan hasil, betapapun primitif atau majunya metoda bertaninya. Pertimbangannya mengenai biaya selalu mencakup jerih-payah yang harus ia curahkan. Biaya tunai untuk peralatan dan bahan yang ia pergunakan pun diperhitungkannya. Ia memperhitungkan pula dana-dana untuk menghadapi berbagai resiko kegagalan panen, kemungkinan jatuhnya harga pasar pada waktu panen dan ketidak-pastian tentang efektifnya metoda-metoda baru yang sedang ia pertimbangkan. Ia mungkin memperhitungkan juga adanya ketidak-senangan keluarga, teman atau tetangganya terhadap penyimpangan dari pola bercocok-tanam yang sudah lazim atau dari tradisi masyarakat maengenai apa yang “pantas” atau “tidak pantas” dilakukannya (A.T. Mosher, 1987).





III.  METODE PENELITIAN



3.1  Lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di Kabupaten Way Kanan pada Kecamatan Kasui, Negri Agung, Bahuga dan Baradatu.

3.2  Pengambilan sampel dan waktu penelitian

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sengaja terhadap 12 responden. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Teknik pengumpulan data primer diperoleh dengan cara observasi langsung kelokasi penelitian dan mengadakan wawancara dengan petani responden menggunakan alat bantu kuisioner. Data tersebut digunakan untuk mengetahui identitas responden, luas lahan, kepemilikan alat-alat pertanian, penggunaan input dan biaya, dan jumlah produksi. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17 Mei 2014

3.3  Metode analisis data

Dalam penelitian komoditas kelapa sawit ini, kami menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif.Analisis data kuantitatif digunakan untuk:
1.  Total biaya

Menurut Sudarsono (1995), total biaya dihitung dengan rumus sebagai berikut:
TC = TFC + TVC

Keterangan:
TC = Total Biaya/Total Cost (Rp/th)
TFC = Total Biaya Tetap / Total Fixed Cost (Rp/th)
TVC = Total Biaya Variabel/Total Variable Cost (Rp/th)

2.  Penerimaan

Sudarsono (1995), penerimaan pada bidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang sebelum dikurangi dengan biaya pengeluaran selama kegiatan usahatani, dengan menggunakan rumus:
TR = P. Q

Keterangan:
TR = Total Penerimaan/Total revenue (Rp/kg)
P = Harga Produk/Price (Rp kg-1), dan Q = Jumlah produk/Quantity (kg).




3.  Pendapatan

Sudarsono (1995), pendapatan diperoleh dari hasil penerimaan dikurangi dengan biaya total, dengan rumus sebagai berikut:
I = TR – TC

Keterangan:
I = Pendapatan/Income (Rp),
TR =Total Penerimaan/ Total revenue (Rp)
TC = Total Biaya/Total Cost (Rp)

4.  Efisiensi Usahatani Kelapa Sawit

Sudarsono (1995), efisiensi diartikan sebagai upaya mengalokasikan input untuk mendapatkan produksi yang maksimal. Tingkat efisiensi usahatani dapat dinilai dari hasil perbandingan antara nilai keluaran (output) dan nilai masukan (input).
Dalam analisis ekonomi, efisiensi bertindak sebagai alat ukur untuk mengukur atau mengetahui keuntungan dari usaha.
R/C ratio = TR/TC

Keterangan:
R/C ratio = Perbandingan antara penerimaan dan biaya,
TR = Total penerimaan/Total Revenue (Rp th-1).
TC = Biaya Total/Total Cost (Rp th-1).

Keputusan:
1. Jika R/C Ratio > 1, usaha yang dilakukan secara ekonomi dikatakan efisien, ini berarti usaha tersebut menguntungkan.
2. Jika R/C Ratio < 1, usaha yang dilakukan secara ekonomi dikatakan tidak efisien, ini berarti usaha tersebut tidak menguntungkan.

Analisis data kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan usaha perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan.




IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1  Profil responden

4.1.1  Umur petani responden

Hasil petani terhadap responden diketahui bahwa umur petani kelapa sawit umumnya bervariasi yaitu antara 30 tahun hingga 77 tahun dengan rata-rata umur responden 51,4 tahun. Umur petani sangat mempengaruhi hasil akhir, karena umur petani mempengaruhi produktivitas dan seberapa besar petani mencurahkan tenaganya dalam kegiatan usahatani.

Tabel 1.  Sebaran umur petani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan

kelompok Umur
jumlah orang
presentase
(tahun)


15-30
-
0%
31-60
10
83,33%
61-77
2
16,67%
jumlah
12
100%



Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui mayoritas umur petani responden adalah umur 30-60 tahun sebanyak 10 orang dengan presentase 83,33%.
4.1.2  Pendidikan petani responden

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi cara petani dalam mengelola usahataninya. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap pendapatan dan hasil produksi petani, juga terhadap kemampuan petani dalam menerapkan informasi baru dalam bidang pertanian dan membantu petani dalam mengambil keputusan serta dalam memecahkan masalah yang dihadapi petani dalam mengelola usahataninya.
Petani responden pada daerah penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang beragam. Sebaran tingkat pendidikan rata-rata petani responden dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.  Tingkat pendidikan petani responden di Kabupaten Way Kanan

Tingkat
jumlah orang
presentase
Pendidikan


SD
9
75%
SMP
1
8,33%
SMA
2
16,67%
jumlah
12
100%

Dari tabel 2 dapat dietahui bahwa tingkat pendidikan responden terbanyak adalah tingkat SD sebanyak 9 0rang dengaan presentase 75%.




4.1.3  Jumlah tanggungan keluarga

Jumlah tanggungan keluarga juga merupakan faktor yang penting dalam usahatani, karena semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka pendapatan yang diperoleh akan semakin kecil karena di pengaruhi oleh biaya hidup. Akan tetapi, tanggungan keluarga yang telah berada pada usia produktif untuk bekerja maka akan menambah tenaga kerja dan dapat meningkatkan produksi usahatani serta dapat menambah pendapatan usahataninya tersebut.

Tabel 3.  Tanggungan keluarga petani responden di Kabupaten Way Kanan

Tanggungan rumah tangga
jumlah orang
presentase
(orang)


1-2
-
0%
3-4
5
41,67%
5-6
 7
 58,33%
jumlah
 12
 100%




Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa 7 orang responden menanggung 5-6 orang dengan presentase 58%, sedangkan 5 orang responden menanggung 3-4 0rang dengan presentase 41,67%.

4.1.4  Penguasaan lahan pertanian

Luas lahan merupakan total lahan yang digunakan petani kelapa sawit untuk berusaha tani terung.  Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa rata-rata luas lahan garapan dari petani kelapa sawit di Kabupaten way Kanan adalah 1,36 hektar. 

Tabel 4.  Luas lahan kelapa sawit yang dimiliki responden di Kabupaten Way  kanan.

luas lahan
jumlah orang
presentase
(hektar)


1 - 1,5
9
75%
1,6 - 2
2
8,33%
2,1 - 3
1
16,67%
jumlah
12
100%

Dari tabel 4 diketahui bahwa 9 responden memiliki 1-1,5 hektar (75%), 2 responden memiliki 1,6-2 hektar (8,33%) sedangkan 1 orang memiliki 2,1-3 hektar (16,67%).

4.2  Penggunaan sarana produksi dan biaya

4.2.1  Sarana Produksi

Sarana produksi pertanian yang digunakan oleh petani responden yaitu lahan, benih, pupuk urea, pupuk NPK, pestisida, dan tenaga kerja. Sebagian besar sarana produksi tersebut didapat petani dengan cara membeli dan penggunaannya disesuaikan dengan luasan lahan kelapa sawit yang diusahakan oleh petani.


1.  Penggunaan benih
Pembibitan dalam tanaman perkebunan merupakan investasi jangka panjang karena hasilnya masih akan dinikmati beberapa tahun lagi. Untuk mendapatkan bibit yang unggul dan bermutu adalah bibit yang bersertifikat  dari balai benih. Benih yang unggul dapat mendapatkan hasil yang lebih tinggi.

Rata-rata penggunaan bibit kelapa sawit oleh petani responden adalah 201,67 . Dengan harga tiap bibit Rp 26.250.

2.  Penggunaan pupuk

Jenis pupuk yang digunakan dalam penelitian oleh responden adalah pupuk Urea dan NPK. Alasan petani menggunakan pupuk jenis ini karena merupakan pupuk bersubsidi yang murah dan terjangkau. Dengan rata-rata harga pupuk untuk urea sebesar Rp 2.200 dan NPK Rp 7.000,

Tabel 5.  Rata-rata penggunaan pupuk per hektar dalam satu kali proses produksi (1 tahun) di Kabupaten Way Kanan.

Jenis pupuk
Penggunaan pupuk
Urea
319,54 kg
NPK
440,87 kg


3.  Penggunaan obat-obatan

Jenis pestisida yang digunakan dalam penelitian ini adalah Roundup. Pada jenis pestisida ini tidak semua petani responden menggunakan, tetapi hanya beberapa yang menggunakan pestisida ini tergantung usia tanaman kelapa sawit di lokasi penelitian yaitu biasanya pada tanaman yang masih usia muda, gulma yang terlalu berat dan pengendalian hama. Rata-rata  penggunaan pestisida oleh responden dalam 1 hektar (1 tahun terakhir) adalah 7,58 liter dengan harga Rp 55000.

4.  Penggunaan tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam mengelola usahatani.  Tenaga-tenaga tersebut terdiri dari tenaga kerja luar keluarga (TKLK) dan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) yang dihitung degan satuan (HKP) dengan  upah rata-rata per HKP Rp 40.000.

Tabel 6.  Penggunaan tenaga kerja manusia rata-rata per hektar dalam per tahunnya untuk usahatani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan dalam satuan (HKP).

Macam jenis
Jumlah HKP
TKLK
82,57
TKDK
18,32
5.  Penggunaan peralatan

Jenis alat-alat pertanian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dodos, egrek, parang, cangkul roli, dan sprayer. Dengan rata-rata umur ekonois antara 4—5 tahun.

Tabel 7.  Rata-rata nilai penyusutan dari peralatan per tahun untuk usahatani Kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan.

Jenis alat
Nilai penyusutan (Rp/tahun)
Cangkul
9922,61

egrek
20738,09

Golok
7657,73

Sprayer
64548,61

dodos
20666,66

roli
59434,52

Rata-rata penyusutan
30.495



4.2.2  Biaya-biaya

Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. 



1.  Biaya Tunai

Biaya tunai merupakan biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Biaya yang dikeluarkan oleh responden meliputi pupuk, Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK), obat-obatan dan pajak.

Tabel 8.  Total biaya tunai yanng digunakan oleh responden di Kabupaten Way Kanan.

uraian
Harga
Fisik
nilai
urea
2200
434,58
956.076
NPK
7000
599,5833
4.197.083
round up
55000
7,58
416.900
TK LK (HKP)
40000
112,25
4.490.000
pajak


6.250
jumlah


10.066.309

2.  Biaya Diperhitungkan

Biaya diperhitungkan meliputi penyusutan alat, TKDK dan biaya Investasi pertahun.





Tabel 9.  Total biaya diperhitungkan yang digunakan oleh responden di Kabupaten Way Kanan.

uraian

harga
 fisik
nilai
a. Penyusutan alat



         30.495
b. Biaya investasi/tahun


       915.366
c. TKDK

40000
25
    1.000.000
jumlah



  1.945.860


4.3  Produksi dan Penerimaan

Tabel 10.  tabel penerimaan oleh responden di Kabupaten Way Kanan.

Uraian
luas lahan

Per hektar
(Ha)
Harga/satuan
Fisik
Nilai
Umur tanaman (7,75 tahun)



Penerimaan sawit




bulan 1
1,36
1500
747,97794
        1.121.967
bulan 2
1,36
1500
819,85294
        1.229.779
bulan 3
1,36
1500
920,95588
        1.381.434
bulan 4
1,36
1500
941,97059
        1.412.956
bulan 5
1,36
1500
979,34559
        1.469.018
bulan 6
1,36
1500
1064,3382
        1.596.507
bulan 7
1,36
1500
1101,4044
        1.652.107
bulan 8
1,36
1500
1103,6765
        1.655.515
bulan 9
1,36
1500
1151,4706
        1.727.206
bula10
1,36
1500
1305,7574
        1.958.636
Bula11
1,36
1500
1330,0221
        1.995.033
bula12
1,36
1500
1294,1765
        1.941.265
jumlah penerimaan


      19.141.423


Penerimaan usahatani kelapa sawit diperoleh dari hasil produksi kelapa sawit dikalikan harga produk yang dinyatakan dalam rupiah.

5.  Analisis pendapatan

Keuntungan petani adalah penerimaan yang diperoleh dikurangi dengan seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.


Tabel 11.  Analisis keuntungan  usahatani kelapa sawit dalam 1 tahun di Kabupaten Way Kanan.

Uraian
luas lahan

Per usahatani
Per hektar
(Ha)
Harga/satuan
Fisik
Nilai
Fisik
Nilai
Umur tanaman (7,75 tahun)





biaya investasi





beli bibit

26250
201,67
5293837,5
148,2867647
3892527,6
pajak



18750

13786,765
tenaga kerja

40000
53,67
2146800
39,46323529
1578529,4
NPK

7000
1466,667
10266666,7
1078,431373
7549019,6
urea

2200
1775,833
3906833,33
1305,759804
2872671,6
obat-obatan

55000
22,75
1251250
16,72794118
920036,76
total biya investasi


22884138

16826572
biaya investasi/tahun


915365,5

673062,9
Biaya tunai






a.Pupuk:






1.urea

2200
434,58
956076
319,5441176
702997,06
2. NPK

7000
599,5833
4197083,33
440,870098
3086090,7
b.Obat-obatan






1. round up

55000
7,58
416900
5,573529412
306544,12
c.TK LK (HKP)
40000
112,25
4490000
82,53676471
3301470,6
d. pajak



6250

4595,5882
Subtotal Biaya Tunai


10066309

7401698
Biaya diperhitungkan





a. Penyusutan alat


30494,709

22422,58
b. Biaya investasi/tahun


915365,5

673062,87
c. TKDK

40000
25
1000000
18,38235294
735294,12
Subtotal Biaya diperhitungkan

1945860,2

1430780
Total Biaya



12012170

8832478
Keuntungan atas Biaya tunai

15966026

11739725
Keuntungan atas biaya Total

14020165

10308945
R/C atas biaya tunai


2,5860853

2.58
R/c atas biaya total


2,1671635

2,16


Penerimaan petani kelapa sawit adalah sebesar Rp 19.141.423 dalam 1 hektar.  Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani untuk setiap musim tanam dalam 1 tahun terdiri dari biaya tunai (biaya pembelian pupuk, bibit, obat-obatan, biaya TK luar keluarga, dan pajak), dan biaya yang diperhitungkan (upah tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan alat-alat pertanian,dan sewa lahan).

Berdasarkan tabel 11 diperoleh nisbah penerimaan dengan biaya (R/C ratio).  Besarnya R/C ratio atas biaya tunai yang diperoleh dalam usahatani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan adalah 2,58 yang artinya setiap Rp. 1,00 biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani terung akan diperoleh penerimaan sebesar 2,58. Sedangkan besarnya R/C ratio atas biaya total yang diperoleh dalam usahatani terung di Kabupaten Pesawaran adalah 2,16  yang artinya setiap Rp. 1,00 biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani terung akan diperoleh penerimaan sebesar 2,16.  Besarnya nisbah penerimaan dengan biaya tersebut menunjukan bahwa usahatani terung memberikan keuntungan.



V.  KESIMPULAN DAN SARAN



5.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.  Produksi kelapa sawit  rata-rata petani adalah 1063 kg pada luas lahan rata-rata 1 ha. Dengan harga rata-rata Rp 1500 Penerimaan petani terung adalah sebesar Rp 19.141.423
2.  Usahatani kelapa sawit di Kabupaten Way Kanan  menguntungkan dengan pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 11.739.725 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 10.308.945
3.  Besarnya nisbah penerimaan terhadap biaya tunai yang diperoleh dalam usahatani terung di Kabupaten Pesawaran adalah 2,58. Sedangkan besarnya nisbah penerimaan terhadap biaya total yang diperoleh dalam usahatani terung di Kabupaten Way Kanan adalah 2,16.





5.2  Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, maka saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut:
1.  Memperbaiki sarana transportasi dan infrastruktur agar dapat memperlancar proses usahatani kelapa sawit terutama dalam proses pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) dari lokasi penanaman kelapa sawit ke Pabrik kelapa Sawit (PKS) Perusahaan agar dapat berjalan dengan efisien.
2. Membangun dan memberikan fasilitas terhadap Koperasi Unit Desa (KUD) agar staf dan anggota-anggota KUD dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan efektif serta dapat mengkooordinir hasil produksi TBS petani dengan baik.
3. KUD dapat mengkoordinir dan menyediakan pupuk tepat waktu untuk petani agar tidak ada keterlambatan dalam proses pemupukan usahatani kelapa sawit tersebut.
4. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dapat memberikan penyuluhan yang bersifat membangun terhadap petani agar petani dapat memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang luas dalam mengelola usahatani kelapa sawit tersebut, agar dapat memperoleh pendapatan TBS yang semakin tinggi dan semakin berkualitas.



DAFTAR PUSTAKA


A.T. Mosher. 1987. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani perkebunan . Raja grafindo persada. Jakarta

Anonimous. 2008. Panduan budidaya kelapa sawit. Erlangga. Jakarta

Fauzi.  2002. Budidaya dan Pemanfaatan limbah kelapa sawit. Raja grafindo persada. Jakarta

Fauzi. 2012. Budidaya dan Pemanfaatan limbah kelapa sawit. Raja grafindo persada. Jakarta

Hadisaputro. 1973. Usaha tani perkebunan. gramedia. jakarta

Hernanto. 1988. Pengetahuan Usahatani Indonesia. Erlangga. Jakarta

Makeham. 1999. Pengetahuan usaha tani perkebunan. Erlangga. Jakarta

Suwarto. 2010. Budidaya dan pengolahan kelapa sawit. Kanisius: Yogyakarta








1 komentar:

  1. LIGASUPER88 Pusat Games Taruhan Online TerBaik Dan Terpercaya !!!!!

    Promo Spesial :
    » New Member Sportsbook 30%
    » New Member Live Casino 30%
    » New Member Slot Online 50%
    » Cashback Sportsbook 10%
    » Rollingan Live Casino 1%
    » Rollingan Slot Online 1%

    Permainan Tersedia :
    » Sbobet Sportsbook
    » Sbobet Casino
    » Sbobet Toto Draw
    » Ibcbet/Maxbet
    » Sabung Ayam
    » Tembak Ikan
    » Slot Pragmatic Play
    » Slot Habanero
    » Slot Spadegaming
    » Slot Joker
    » Slot Microgaming
    » Slot Toptrend
    » WM Casino
    » Sexy Bacccarat
    » Ebet Casino

    Support Bank Ligasuper88 :
    BCA >MANDIRI >DANA >BNI >BRI > GO PAY > OVO > PANIN > ATM BERSAMA

    Daftar & Jutawan Sekarang Juga !
    Hubungi Kontak Kami Dibawah ini (Online 24 Jam Setiap Hari) :

    » Whatsaap 1 : +85561375501
    » Whatsaap 2 : 081315849567
    » Line : Ligasuper88
    » Link : www.ligasuper88.com

    BalasHapus